Entri Populer

Jumat, 01 Juli 2011

Mengakui, Memaafkan dan Melepaskan
Terjemahan Buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm

Bagi kamu yang mengalami kesulitan bermeditasi, hal ini disebabkan kamu belum belajar bagaimana melepas pada saat bermeditasi. Mengapa kita tidak bisa melepaskan hal-hal sederhana seperti masa lampau atau masa mendatang? Mengapa kita begitu mempedulikan apa yang telah dilakukan dan dikatakan seseorang terhadap kita hari ini? Semakin banyak kamu memikirkannya, semakin bodohlah jadinya. Seperti pepatah kuno, “Ketika seseorang menyebutmu idiot, semakin sering kamu mengingatnya, maka semakin seringlah mereka telah menyebutmu idiot!” Jika kamu segera melepaskannya, kamu tidak akan pernah memikirkannya lagi. Paling banyak mereka hanya menyebutmu idiot sekali saja. Sudah! Selesai! Kamu bebas!

Mengapa kita memenjarakan diri kita dalam masa lalu kita? Mengapa kita masih tidak bisa melepaskannya? Apakah kamu sungguh-sungguh ingin bebas? Maka akuilah, maafkan dan lepaskan. Akui, maafkan dan lepaskan hal apapun yang menyakitimu, baik itu sesuatu yang dilakukan atau dikatakan oleh seseorang, maupun apa yang telah terjadi dalam kehidupanmu. Sebagai contoh, seseorang dalam keluargamu telah meninggal dan kamu berdebat dengan dirimu sendiri bahwa mereka tidak seharusnya meninggal. Atau kamu telah kehilangan pekerjaanmu dan kamu berpikir tanpa henti bahwa hal ini tidak seharusnya terjadi. Atau hanya karena sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, kemudian kamu begitu terobsesi menyatakan bahwa itu tidaklah adil. Kamu boleh menghukum dirimu atas hal yang kamu lakukan sepanjang sisa hidupmu jika kamu mau, tetapi tidak ada seorangpun yang memaksamu untuk melakukannya. Sebaliknya kamu dapat mengakui, memaafkan dan belajar memaafkan. Pelepasan adalah proses pembelajaran. Pelepasan memberikan kebebasan bagi kita untuk menyongsong masa depan dengan mudah, serta memutuskan rantai keterikatan terhadap masa lalu.

Baru-baru ini saya berbicara dengan beberapa orang mengenai komunitas orang-orang Kamboja di Perth yang menjadi komunitas Buddhis, masih banyak hal yang harus saya lakukan bersama komunitas ini. Seperti layaknya umat Buddha tradisional lainnya, ketika mereka terbentur masalah, mereka akan datang dan berkonsultasi dengan para bhikkhu. Inilah yang telah mereka lakukan selama berabad-abad. Vihara dan para bhikkhu adalah pusat sosial, pusat keagamaan, dan pusat konseling bagi komunitas tersebut. Bahkan ketika para pria bertengkar dengan istri mereka, merekapun datang ke vihara.

Suatu ketika pada saat saya masih seorang bhikkhu muda di Thailand, seorang pria datang ke vihara dan bertanya pada saya, “Bolehkah saya tinggal di vihara selama beberapa hari?” Saya pikir ia ingin bermeditasi, jadi saya berkata, “Oh, kamu mau bermeditasi ya?” “Oh, tidak”, ia menjawab, “Saya ingin tinggal di vihara karena saya baru saja bertengkar dengan istri saya.” Jadi ia pun tinggal di vihara. Tiga atau empat hari kemudian ia menjumpai saya dan berkata, “Saya merasa lebih baik sekarang, bolehkah saya pulang?” Sungguh bijak, ia bukannya pergi ke bar dan mabuk-mabukan, ia tidak mendatangi teman-temannya dan membeberkan kepada mereka hal-hal jelek yang ia pikirkan mengenai apa yang telah dilakukan istrinya sehingga memperkuat rasa sakit hati dan kemarahannya, melainkan ia tinggal dengan sekumpulan bhikkhu yang penuh kebaikan dan kedamaian, yang tidak akan berkomentar apapun mengenai istrinya. Ia merenungkan hal-hal yang telah dilakukannya dalam kedamaian itu, dalam lingkungan yang mendukung dan akhirnya ia pun merasa lebih baik. Kadang-kadang inilah fungsi vihara: sebagai pusat konsultasi, tempat pengungsian, tempat dimana orang melepaskan segala permasalahannya. Bukankah hal ini lebih baik daripada tetap melekat pada masa lalu, terutama ketika kita marah terhadap sesuatu yang telah terjadi? Ketika kita memperbesar kemarahan, apakah kita dapat benar-benar melihat hal yang sedang terjadi? Atau kita melihatnya melalui kacamata kemarahan yang menyesatkan, mencari kesalahan orang lain, hanya memperhatikan hal-hal jelek yang telah dilakukannya pada kita, tanpa pernah benar-benar melihat gambarannya secara utuh?

Satu hal yang saya amati dari komunitas orang orang Kamboja ini adalah bahwa mereka semua telah melalui penderitaan pada masa zaman Pol Pot. Saya mengenal seorang pria Kamboja yang istrinya ditembak tepat di hadapannya oleh Khmer Merah, hanya karena mencuri sebuah mangga. Istrinya sangat lapar sehingga ia memetik sebuah mangga dari pohon. Salah seorang kader Khmer Merah melihatnya dan, tanpa diadili, ia menarik senapannya di depan suaminya dan menembak mati sang istri. Ketika pria ini menceritakan hal ini kepada saya, saya memperhatikan wajahnya, gerak gerik tubuhnya, sungguh menakjubkan, tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, bahkan tidak ada kesedihan yang tampak. Yang ada hanyalah penerimaan yang penuh kedamaian atas apa yang telah terjadi. Hal ini tidak seharusnya terjadi, tetapi pada kenyataannya hal inilah yang terjadi.

Dengan melepaskan masa lalu, kita dapat menikmati masa sekarang dan bebas menyongsong masa depan. Mengapa kita selalu membawa-bawa sesuatu yang telah berlalu? Kemelekatan terhadap masa lalu bukanlah suatu teori, melainkan suatu sikap. Kita dapat mengatakan, “Oh, saya tidak melekat.” Atau kita dapat mengatakan, “Saya sama sekali tidak melekat, bahkan tidak melekat pada ketidakmelekatan tersebut,” yang terasa sangat bijak dan terdengar sangat indah, tetapi semua itu hanyalah sampah. Tahukah kamu jika kamu melekat, tidak bisa melepaskan hal-hal penting yang menyebabkanmu menderita, maka hal ini akan menghalangi kebebasanmu. Kemelekatan laksana bola besi dengan rantai yang terikat di kakimu. Tidak ada orang yang mengikatkannya padamu. Kamu memiliki kunci untuk membebaskan dirimu, tetapi kamu tidak menggunakannya. Mengapa kita begitu membatasi diri kita sendiri dan mengapa kita tidak bisa melepaskan segala urusan dan kekhawatiran terhadap masa yang akan datang? Apakah kamu khawatir mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, besok, minggu depan, atau tahun depan? Mengapa kamu melakukan hal ini? Sudah berapa kali kamu mengkhawatirkan ujian atau ulangan, atau kunjungan ke dokter, atau kunjungan ke dokter gigi? Kamu bisa saja khawatir kamu akan sakit dan ketika kamu telah bersiap mengunjungi dokter gigi, ternyata mereka telah membatalkan perjanjianmu dan kamu pun tidak perlu pergi lagi!

Sesuatu tidak akan pernah terjadi sesuai dengan pengharapanmu. Belumkah kita belajar bahwa masa yang akan datang itu begitu tidak pasti sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan? Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika kita melepaskan masa lalu dan masa yang akan datang, bukankah kita telah berada pada jalur meditasi yang mendalam? Bukankah kita sebenarnya sedang belajar bagaimana cara untuk menjadi damai, bebas, dan puas?

Ini adalah indikasi dari makna pencerahan. Ini berarti melihat bahwa banyak kemelekatan kita yang didasari oleh kebodohan belaka. Kita tidak memerlukan hal ini. Seiring kita mengembangkan meditasi dengan lebih mendalam, kita semakin bisa lebih melepaskannya. Semakin banyak kita melepas, semakin bahagia dan damailah diri kita. Inilah alasan mengapa Buddha menyebut semua jalan dalam ajaran Buddha sebagai latihan yang bertahap. Ini adalah jalan yang membimbing seseorang, selangkah demi selangkah, dan pada setiap langkahnya kamu akan mendapatkan suatu penghargaan. Itulah sebabnya ini merupakan sebuah jalan yang sangat membahagiakan dan semakin jauh kamu melangkah, maka semakin membahagiakan dan berhargalah penghargaan itu. Bahkan pada langkah pertama saja kamu sudah akan mendapatkan penghargaan.

Saya masih ingat pertama sekali saya bermeditasi. Saya ingat ruangannya, di Universitas Cambridge, di Ruang Wordsworth, Kampus King. Saya belum pernah bermeditasi sebelumnya, jadi saya hanya duduk di sana lima sampai sepuluh menit dengan beberapa teman saya. Walaupun hanya sepuluh menit, tetapi saya berpikir, “Oh, alangkah menyenangkannya”, saya masih ingat perasaan itu bahwa ada sesuatu yang bergaung dalam diriku, memberitahukan bahwa inilah jalan yang membimbing saya ke suatu tempat yang luar biasa. Saya telah mendiskusikan segala jenis filosofi sambil minum kopi dan bir dengan teman-teman saya, tetapi “diskusi” selalu berakhir dengan perdebatan dan mereka tidak pernah membuat saya lebih bahagia. Bahkan profesor besar di unversitas yang kamu kenal dengan sangat baik tidak terlihat bahagia. Itulah salah satu alasan mengapa saya tidak melanjutkan karir akademis saya. Mereka memang sangat brilian dalam bidang mereka, tetapi di sisi lain mereka juga sebodoh orang biasa. Mereka juga berdebat, khawatir dan tertekan, sama seperti setiap orang yang lain. Dan hal ini benar-benar mengena padaku. Mengapa orang-orang pintar di universitas yang terkenal ini tidak merasa bahagia? Apa gunanya menjadi pintar jika hal ini tidak memberikanmu kebahagiaan? Yang saya maksud adalah kebahagiaan sejati, kepuasan sejati dan kedamaian sejati.


Kepuasan dan Kedamaian Sejati

Orang yang penuh kepuasan dan kedamaian sejati yang pertama saya jumpai adalah Ajahn Chah, guru saya di Thailand. Ada sesuatu dalam dirinya! Saya melihat apa yang dimilikinya dan saya berkata pada diriku sendiri, “Saya menginginkan hal itu, saya menginginkan pengertian itu, kedamaian itu.” Orang-orang dari segala penjuru dunia datang mengunjunginya. Hanya karena beliau seorang bhikkhu tidak berarti setiap orang merasa hormat, mengabdi dan selalu memujinya. Sebagian orang datang dan berdebat dengannya, bahkan berusaha mencari kesalahannya, atau bahkan membentaknya. Saya ingat sebuah cerita mengenai saat pertama kalinya ia mengunjungi Inggris dengan Ajahn Sumedho. Beliau ber-pindapata di Hampstead dan ketika beliau sedang berjalan, hal ini terjadi dua puluh tahun silam, seorang pengacau muda mendatangi orang Asia yang berkostum lucu ini dan berpura-pura meninju hidungnya. Ajahn Chah tidak tahu orang ini hanya berpura-pura. Kemudian ia berusaha untuk menendangnya tetapi luput dari sasaran. Ia hanya ingin bercanda dengan bhikkhu Asia kecil yang berkostum lucu. Ajahn Chah tidak tahu kapan beliau akan dipukul. Beliau tidak pernah terkena sasaran, karena beliau tetap damai, tenang dan tidak pernah marah. Kemudian, ia mengatakan bahwa Inggris adalah tempat yang sangat bagus dan ia ingin mengirim semua bhikkhu bhikkhu seniornya ke sana untuk benar-benar menguji mereka. Sedangkan bagi Ajahn Chah, beliau telah memiliki ketenangan hati dalam latihannya.

Mudah bagi kita untuk mengatakan, “saya telah tercerahkan”, tetapi ketika hal demikian terjadi, kamu pun berlari sejauh satu mil. Pada saat itu bhikkhu lain di Hampstead sedang jalan-jalan sore ketika ia melewati sebuah pub. Pada saat itu, beliau tidak menyadari pada hari tersebut ada pertandingan sepak bola besar-besaran antara Inggris dan Skotlandia. Pertandingan tersebut telah berakhir dan para pendukung Skotlandia berada di pub tersebut dalam keadaan mabuk. Pada masa itu, ada sebuah drama seri TV mengenai seorang bhikkhu Kung Fu, yang pada saat masih kecil dijuluki “jangkrik”. Penggemar sepakbola Skotlandia itu melihat melalui jendela pub dan berkata, “Oh, ia adalah jangkrik kecil” dan bhikkhu ini terkejut. Mereka adalah orang Skotlandia yang berbadan besar dan mereka sangat mabuk, jadi ia pun melarikan diri dan mereka mengejarnya di sepanjang jalan kembali ke vihara. “Jangkrik kecil” sedang menyelamatkan dirinya. Ia kalah. Tetapi jenis praktik pelepasan yang dilakukan oleh Ajahn Chah di Hampstead adalah sesuatu yang memberikanmu sebuah perasaan bahwa kamu berada di jalan menuju pencerahan.


Sebuah Jalan Bertahap

Inti ajaran Buddha adalah sebuah jalan bertahap, selangkah demi selangkah dan kamu akan berhasil. Beberapa orang berkata kamu seharusnya tidak bermeditasi untuk mendapatkan hasil. Semua itu omong kosong! Bermeditasilah untuk mendapatkan hasil. Bermeditasilah untuk menjadi bahagia. Bermeditasilah untuk mendapatkan kedamaian. Bermeditasilah untuk mencapai pencerahan, sedikit demi sedikit. Tetapi jika kamu mengharapkan hasil maka bersabarlah. Salah satu masalah yang dihadapi manusia adalah ketika mereka menetapkan tujuannya, mereka tidak cukup bersabar. Karena itulah mereka kecewa, tertekan dan merasa frustrasi. Mereka tidak meluangkan waktu yang cukup untuk berlatih hingga berkembang secara alami menuju pencerahan. Hal ini membutuhkan waktu, bahkan mungkin beberapa kali kehidupan, jadi jangan terburu buru. Seiring kamu menempuh setiap langkahnya, selalu ada sesuatu yang dapat kamu pelajari. Lepaskanlah sedikit maka kamu akan mendapatkan kebebasan dan kedamaian. Lepaskanlah lebih banyak maka kamu akan merasakan kebahagiaan. Inilah cara saya mengajarkan meditasi, baik di vihara saya maupun di sini. Saya mendorong para meditator untuk mencoba mencapai tingkat-tingkat pelepasan ini, tingkat kebahagiaan yang disebut Jhana.


Jhana

Setiap orang ingin bahagia dan jhana adalah caramu agar dapat meraih kebahagiaan, maksud saya kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang mendalam. Satu satunya masalah yang timbul adalah bahwa keadaan ini tidak bertahan lama. Hanya beberapa jam, tapi mereka tetap saja sangat menarik. Mereka muncul melalui pelepasan, pelepasan yang nyata. Terutama melalui pelepasan keinginan, pilihan dan kendali. Sungguh merupakan suatu hal yang sangat menarik, jika kita mempraktikkan meditasi secara mendalam dan memahami bagaimana hal itu dapat terjadi. Melalui pengalaman seperti itulah kamu menyadari bahwa semakin kamu mengendalikan, kamu akan semakin ketagihan karena kemelekatan, semakin berkurang pula kedamaian yang kamu peroleh. Tetapi semakin kamu melepaskan, semakin kamu menanggalkan, semakin kamu menyingkir dari jalan tersebut, kamu akan merasa semakin bahagia. Ini adalah ajaran dari sesuatu yang sangat mendalam, jauh lebih mendalam daripada yang dapat kamu baca dalam buku atau kamu dengar dalam sebuah ceramah dan tentu saja lebih bermanfaat daripada hanya mendiskusikannya di sekeliling meja kopi. Kamu benar-benar mengalami sesuatu. Hal ini langsung menuju kepada inti ajaran, sesuatu yang disebut orang mistisisme. Kamu benar-benar mengalaminya sendiri. Tepatnya ketika kamu melepaskan “pengendali” ini, ”pelaku” ini. Nah, inilah masalah utama yang dihadapi manusia. Kita tidak dapat berhenti mengacau. Sering kali kita seharusnya membiarkannya, tetapi kita tidak mampu, kita tidak melakukannya. Kita malah mengacaukannya. Mengapa sih kamu tidak bisa bersenang-senang saja dan menikmatinya, daripada terus melakukan sesuatu tanpa henti?

Sangat sulit untuk hening pada saat bermeditasi, tetapi semakin mampu kamu hening, semakin banyak hadiah yang kamu dapatkan, kamu akan merasa semakin damai. Ketika kamu melepaskan pada saat bermeditasi, melepaskan keinginan, melepaskan kendali, ketika kamu berhenti berbicara dalam hati, kamu akan medapatkan keheningan sejati dalam dirimu. Berapa banyak orang yang merasa jengkel akan keributan yang berkecamuk dalam kepala mereka sepanjang waktu? Berapa banyak orang yang terkadang sulit tidur pada malam hari, tatkala tidak ada keributan yang berasal dari tetangga, melainkan sesuatu yang jauh lebih berisik di antara kedua telinga mereka. Bicara, Bicara, Bicara, Cemas, Cemas, Cemas, Berpikir, Berpikir, Berpikir! Inilah masalah yang dihadapi manusia, pada saat mereka seharusnya berpikir, mereka tidak dapat berpikir jernih, dan pada saat mereka seharusnya berhenti berpikir, mereka tidak bisa merasa damai. Saat kita belajar cara bermeditasi, kita dapat merasa menjadi lebih seimbang, dan kita tahu bagaimana cara melepas. Kita tahu bagaimana melepaskan hingga titik dimana semua pemikiran lenyap. Pemikiran ini hanyalah komentar komentar, mereka hanyalah gambaran-gambaran. Perbedaan antara pemikiran dan kenyataan seperti layaknya perbedaan, katakanlah, membaca buku mengenai New York dan mengunjungi New York. Mana yang lebih nyata? Ketika kamu berada di sana, kamu menghirup udara di sana, kamu merasakan suasana disana, kamu merasakan karakternya, semua ini adalah hal-hal yang tidak dapat kamu tuliskan di buku. Kebenaran itu selalu berhubungan dengan keheningan. Kebohongan itu selalu berhubungan dengan kata-kata.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin
MEDITASI : INTI AJARAN BUDDHA
Terjemahan Buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm 

Hari ini saya ingin berbicara secara mendalam mengenai sifat ajaran Buddha. Saya sangat sering membaca di surat-surat kabar dan buku-buku mengenai hal-hal aneh yang terdapat dalam ajaran Buddha. Maka di sini, saya akan menunjukkan inti sebenarnya dari ajaran Buddha, bukan sebagai suatu teori melainkan sebagai suatu pengalaman.

Apa yang Bukan Inti Ajaran Buddha

Psikoterapi – Saya tahu bahwa sebagian orang beranggapan ajaran Buddha itu merupakan suatu bentuk psikoterapi, suatu jalan untuk menerapkan tingkah laku yang bijaksana dan terampil agar hidup lebih damai di dunia ini. Tentu saja, di dalam literatur ajaran Buddha yang kaya terdapat banyak hal yang dapat membantu manusia mengurangi permasalahan hidup. Melalui tingkah laku bijaksana dan niat penuh kasih sayang, Buddha mengajarkan sebuah cara efektif dalam menghadapi permasalahan di dunia. Ketika metode Buddha ini benar-benar berhasil, mereka memberikan keyakinan dan kepercayaan diri kepada orang-orang bahwa ada sesuatu yang benar-benar berharga bagi mereka di jalur Buddhis ini.

Saya sering merenungkan mengapa orang-orang datang ke sini, ke Buddhist Society pada setiap Jumat malam. Ini disebabkan mereka mendapatkan sesuatu dari sini. Sesuatu yang mereka dapatkan dari ajaran-ajaran ini adalah cara hidup yang lebih damai, perasaan yang lebih bahagia terhadap diri mereka sendiri dan rasa penerimaan yang lebih terhadap orang lain. Ajaran Buddha ibarat sebuah terapi permasalahan kehidupan, yang benar-benar menunjukkan hasil. Akan tetapi, bukan ini ajaran Buddha sebenarnya, ini hanyalah salah satu dari efek sampingnya.

Filosofi – Sebagian orang mengenal ajaran Buddha dan mengetahui bahwa ajaran itu merupakan filosofi yang mengagumkan. Mereka bisa duduk mengelilingi meja kopi setelah saya memberikan ceramah dan mereka bisa saja berbincang-bincang selama berjam-jam, tetapi masih belum dekat ke arah pencerahan. Orang-orang sangat sering membahas hal hal yang sangat berjiwa besar, otak mereka dapat berbicara dan berpikir mengenai topik yang begitu mulia. Kemudian mereka keluar dan menyumpahi mobil pertama yang memotong jalan mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka langsung melupakan apa yang mereka perbincangkan begitu saja.

Ritual – Selain melihat ajaran Buddha sebagai filosofi, banyak orang memandangnya sebagai agama. Ritual ajaran Buddha sangatlah bermakna dan tidak seharusnya dihilangkan hanya karena seseorang berpikir bahwa ritual itu tidak penting lagi. Saya sadar, orang orang yang terkadang sangat bangga, bahkan sombong dan berpikir mereka tidak membutuhkan ritual apapun. Tetapi sebenarnya ritual itu mempunyai potensi psikologis. Sebagai contoh, ritual akan berguna dalam masyarakat bagi dua orang yang hendak menjalani kehidupan bersama, mereka melangsungkan upacara pernikahan tertentu. Dalam upacara tersebut ada sesuatu yang terjadi di dalam pikiran, sesuatu terjadi di dalam hati. Ada sebuah komitmen mendalam yang menggema dengan mengetahui bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Dalam upacara dan ritual kematian, semua ritual lantunan, perenungan dan kata-kata baik sesungguhnya bermakna bagi orang yang terlibat di dalamnya. Ritual membantu mereka untuk dapat menerima kepergian seseorang yang mereka kasihi dengan lapang dada. Ritual membantu mereka mengakui kenyataan yang telah terjadi, bahwa perpisahan akhir dengan orang tersebut telah terjadi. Dan dalam penerimaan itulah, mereka akan merasa damai.

Dengan cara yang sama, di vihara kami, dalam upaya memaafkan orang lain dan menyembuhkan luka lama, sering dilaksanakan upacara pengampunan. Di gereja ka****k, mereka mempunyai upacara pengakuan dosa. Rincian yang detil mengenai upacara pengampunan itu tidaklah penting, yang terpenting adalah pengampunan telah diberikan, dengan cara-cara fisik melalui upacara atau ritual. Dibandingkan jika kamu hanya berkata, “Oh, maafkan saya”, bukankah akan sangat berbeda apabila permintaan maaf tersebut dibarengi dengan memberikan hadiah atau seikat bunga? Atau bukankah hal ini akan menjadi berbeda apabila kita menemuinya dan berkata “Oh, apa yang saya lakukan pada hari itu benar-benar tidak bisa dimaafkan, bersediakah kamu menerima undangan makan malam dariku malam ini” atau “ini ada dua lembar tiket nonton.” Akan lebih bermakna dan lebih efektif jika kamu merangkai sebuah upacara pengampunan yang indah daripada hanya dengan menggumamkan beberapa patah kata.

Bahkan ritual bersujud kepada rupang Buddha memiliki arti penting. Ini adalah sebuah praktik kerendahan hati. Ini berarti, “Saya belum tercerahkan dan masih ada sesuatu yang belum saya pahami dalam upaya pencapaian cita-citaku.” Hal ini sama seperti kerendahan hati seseorang ketika mereka pergi ke sekolah atau universitas dan mereka mengakui bahwa dosen-dosen dan profesor-profesor mengetahui lebih banyak hal daripada mereka. Jika kamu membantah para profesor ketika kuliah, apakah kamu akan belajar sesuatu? Kerendahan hati bukanlah ketaatan yang berlebihan, yang menampik harga dirimu, tetapi kerendahan hati adalah sikap menghormati berbagai kualitas diri orang yang berbeda-beda. Kadang-kadang tindakan bersujud, jika dilakukan dengan penuh kesadaran, merupakan sebuah upacara, sebuah ritual yang dapat membangkitkan suatu rasa suka cita yang amat luar biasa. Sebagai seorang bhikkhu banyak orang bersujud kepadaku dan saya juga bersujud kepada banyak orang yang lainnya. Selalu ada seseorang yang dapat kamu berikan sujud, tidak peduli betapa seniornya kamu. Setidaknya selalu ada Buddha untuk disujud. Saya menikmati bersujud. Ketika ada seorang bhikkhu yang lebih senior daripada saya, bersujud adalah sebuah cara yang indah untuk mengatasi keakuan dan sikap menghakimi, terutama ketika saya mesti bersujud kepada seorang bhikkhu yang benar-benar payah (kalau bhikkhunya baik, mudah saja untuk disujud). Ini adalah sebuah ritual yang jika dilakukan dengan cara yang benar bisa menghasilkan begitu banyak manfaat. Setidaknya, saya memberitahukan orang-orang di vihara, jika kamu banyak bersujud maka bisa menguatkan otot perutmu dan tidak akan kelihatan bergeledur! Tetapi bersujud lebih daripada sekadar demikian. Maka ritual-ritual Buddhis ini bermanfaat, tetapi ajaran Buddha jauh melebihi hal itu.


Meditasi dan Pencerahan

Ketika kamu bertanya apa sebenarnya ajaran Buddha itu, ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan beberapa patah kata. Kamu harus kembali kepada proses meditasi karena itulah yang terpenting, titik pangkal ajaran Buddha, inti ajaran Buddha. Sebagaimana yang dapat diketahui oleh setiap orang yang pernah mengenal ajaran Buddha, Buddha adalah seorang manusia yang mencapai pencerahan ketika bermeditasi di bawah sebatang pohon. Beberapa menit yang lalu kamu juga melakukan meditasi yang sama selama setengah jam. Mengapa kamu belum tercerahkan? Pencerahan Buddha itulah yang menciptakan agama Buddha. Itulah artinya, itulah pokoknya. Ajaran Buddha adalah segala hal mengenai pencerahan, bukan hanya sekadar menjalankan hidup sehat, atau hidup bahagia, atau belajar untuk menjadi bijaksana dan mengucapkan hal-hal yang cerdas kepada teman-temanmu di sekeliling meja kopi. Sekali lagi, ajaran Buddha adalah segala sesuatu mengenai Pencerahan ini.

Pertama-tama kamu harus mendapatkan perasaan atau indikasi mengenai apa sebenarnya pencerahan itu. Kadang-kadang orang-orang datang kepadaku dan berkata, “Saya telah tercerahkan”, dan kadang-kadang saya menerima surat dari orang-orang yang berisi, “Terima kasih atas pengajaranmu, ketahuilah bahwa saya telah tercerahkan sekarang.” Dan kadang-kadang saya mendengar pandangan orang mengenai para pengajar atau para guru “Oh yah, tentu saja mereka telah tercerahkan” tanpa benar-benar mengetahui apa makna perkataan tersebut. Kata tercerahkan berarti terbukanya kebijaksanaan, suatu pemahaman tentang lenyapnya semua penderitaan. Orang yang belum melepaskan semua penderitaan tidak akan pernah tercerahkan. Apabila seseorang masih menderita, berarti mereka masih belum melepaskan segala kemelekatan mereka. Orang yang masih mencemaskan harta bendanya, yang masih menangisi kematian dari orang yang ia kasihi, yang masih marah, dan yang masih menikmati kesenangan indrawi seperti seks, mereka belum tercerahkan. Pencerahan adalah sesuatu yang melampaui dan bebas dari semua hal tersebut.

Kadang kala ketika seorang bhikkhu membicarakan hal ini, dengan mudahnya ia dapat membuat orang-orang berdalih. Para bhikkhu kelihatan seperti “Wowsers” [Wowser berarti orang yang luar biasa fanatik, pembunuh kesenangan, berpantang minuman keras, perusak permainan. (Kamus Oxford Australia)], demikian yang mereka katakan di Australia. Mereka tidak nonton film, mereka tidak berhubungan intim, tidak memiliki kerabat, tidak bertamasya pada hari libur, tidak punya kesenangan apapun. Benar-benar gerombolan wowsers! Tetapi hal menarik yang diperhatikan orang banyak adalah bahwa kebanyakan orang yang paling damai dan bahagia yang dapat kamu temui adalah para bhikkhu dan biarawati yang hadir dan duduk serta memberikan ceramah di sini setiap Jumat malam. Para bhikkhu sangat berbeda dengan wowsers, alasannya ada kebahagiaan lain yang diketahui para bhikkhu, yang telah ditunjukkan oleh Buddha kepada mereka. Kamu semua dapat merasakan kebahagiaan yang sama ketika praktik meditasimu mulai tinggal landas.


Pelepasan

Buddha mengajarkan bahwa kemelekatan menyebabkan penderitaan dan pelepasan adalah sumber dari kebahagiaan dan merupakan jalan menuju pencerahan. Lepaskanlah! Sering kali orang menanyakan bagaimana caranya melepaskan? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan tidak akan dapat dijawab dengan kata-kata. Jadi saya menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, “Sekarang waktunya untuk bermeditasi, duduk bersila, dan hiduplah pada saat ini”, karena hal ini mengajarkan mereka bagaimana cara melepaskan. Lebih lanjut, waktu terpenting dalam bermeditasi adalah saat-saat terakhir. Selalu camkan hal ini. Pada beberapa menit terakhir tanyakan pada dirimu, “Bagaimana perasaan saya?”, “Seperti apakah perasaan ini dan mengapa?”, “Bagaimana ini dapat terjadi?”

Orang bermeditasi karena meditasi mengasyikkan dan menyenangkan. Mereka tidak bermeditasi untuk “memperoleh sesuatu”, bahkan walaupun bila kamu bermeditasi ada banyak keuntungan yang dapat diraih seperti manfaat kesehatan atau mengurangi tekanan dalam hidupmu. Meditasi mengurangi sikap intoleran dan kemarahanmu. Tetapi ada sesuatu yang lebih dari semua itu – yaitu hanyalah sekelumit kesenangan. Ketika saya masih sebagai bhikkhu muda, hal inilah yang menjadikan saya seorang Buddhis yang sebenarnya. Membaca buku memang sangat mengispirasi, tetapi membaca buku saja tidaklah cukup. Ketika saya bermeditasilah, saya menjadi damai, sangat damai, luar biasa damai, sesuatu memberitahuku bahwa inilah pengalaman yang paling mendalam dalam hidupku. Saya ingin merasakan hal ini lagi. Saya ingin menyelidikinya lebih lanjut. Mengapa? Karena sebuah pengalaman meditasi yang mendalam adalah senilai dengan seribu ceramah, atau argumen, atau buku-buku, atau teori-teori. Hal yang kamu baca dibuku adalah pengalaman orang lain, bukan pengalamanmu. Mereka hanyalah kata-kata dan mungkin bisa memberikan inspirasi, tetapi pengalaman nyata diri sendirilah yang dapat benar-benar menggugah. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan karena akan mengguncangkan hal-hal yang terpendam dalam dirimu selama ini. Dengan menapaki jalur meditasi ini, sebenarnya kamu sedang belajar bagaimana sebenarnya cara melepaskan.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin
 MELAKUKAN SUATU KESALAHAN BUKANLAH HAL YANG BESAR
Terjemahan Buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm
 
Pencerahan berarti tidak ada lagi kemarahan yang tersisa di dalam dirimu. Tidak ada lagi keinginan pribadi atau kebodohan yang terpendam di dalam diri.

Dalam kehidupan ini, kita sering lupa bahwa melakukan kesalahan bukanlah hal yang besar. Dalam Ajaran Buddha tidaklah menjadi soal apabila seseorang melakukan kesalahan. Tidaklah mengapa menjadi tidak sempurna. Bukankah hal ini luar biasa? Ini berarti kita mempunyai kebebasan sebagai seorang manusia, daripada beranggapan bahwa diri kita sendiri merupakan seorang yang luar biasa dan hebat, yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Alangkah mengerikan bukan, jika kita berpikir bahwa kita tidak diperbolehkan untuk melakukan kesalahan, karena pada dasarnya kita selalu melakukan kesalahan, kemudian kita berusaha menyembunyikannya dan mencoba untuk menutupinya. Sehingga rumah pun bukan lagi tempat yang damai, tenang dan nyaman. Tentu saja kebanyakan orang yang ragu-ragu akan berkata, “Jika kamu memperbolehkan orang untuk melakukan kesalahan, bagaimana mereka akan belajar? Mereka bahkan akan terus melakukan lebih banyak kesalahan lagi.” Tetapi sebenarnya bukan demikian caranya bekerja. Untuk mengilustrasikan hal ini, ketika saya masih remaja, ayah saya berkata kepada saya bahwa ia tidak akan mencampakkan saya maupun menutup pintu rumahnya bagi saya, tidak peduli apapun yang saya lakukan; saya akan selalu diterima di sana, bahkan jika saya melakukan kesalahan terburuk sekalipun. Ketika saya mendengar hal itu, saya memahami itu adalah ungkapan cinta, ungkapan penerimaan. Hal ini menginspirasi saya dan saya begitu menghormatinya sehingga saya tidak ingin menyakitinya, saya tidak ingin menimbulkan masalah baginya dan oleh sebab itulah saya bahkan berusaha lebih keras untuk menjadi lebih bernilai dalam keluarga.

Sekarang jika kita dapat menerapkan hal demikian terhadap orang-orang yang hidup di sekeliling kita, kita akan tahu bahwa hal ini akan memberikan kebebasan dan ruang untuk menenangkan dan mendamaikan diri, serta menghilangkan semua ketegangan. Dengan kenyamanan demikian, timbullah rasa hormat dan peduli kepada orang lain. Jadi saya menantang kamu untuk mencoba memperbolehkan orang-orang untuk melakukan kesalahan – katakanlah pada pasanganmu, orang tuamu atau anak-anakmu, “Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, tidak peduli apapun yang kamu lakukan.” Katakan juga kepada dirimu, “Pintu rumahku akan selalu terbuka untukku.” Perbolehkanlah dirimu untuk melakukan kesalahan juga. Dapatkah kamu mengingat semua kesalahan yang telah kamu lakukan dalam seminggu terakhir ini? Bisakah kamu membiarkannya, masih bisakah kamu menjadi seorang sahabat bagi dirimu sendiri? Hanya pada saat kita memperbolehkan diri kita sendiri untuk melakukan kesalahan, kita akan merasa nyaman.

Itulah yang kita sebut dengan kasih sayang, Metta, cinta. Sesuatu yang tanpa pamrih. Jika kamu hanya mencintai seseorang karena mereka melakukan sesuatu yang kamu sukai atau karena mereka selalu memuaskan segala pengharapanmu, maka tentu saja cinta itu tidak akan begitu berarti. Hal itu hanya seperti transaksi bisnis cinta, “Saya akan mencintaimu jika kamu memberikan imbalan kepadaku sebagai gantinya.”

Ketika pertama kali saya menjadi seorang bhikkhu, saya beranggapan para bhikkhu haruslah sempurna. Saya pikir mereka tidak pernah boleh melakukan kesalahan; ketika duduk saat meditasi, mereka harus selalu duduk dengan tegak. Tetapi bila kamu pernah duduk pukul 04.30 dini hari, terutama setelah bekerja keras sehari sebelumnya, kamu akan merasakan kelelahan yang teramat sangat, tubuhmu akan menggelongsor, kamu bahkan akan terangguk-angguk karena rasa kantuk. Tetapi itu tidak menjadi masalah. Tidaklah menjadi soal apabila seseorang melakukan kesalahan. Dapatkah kamu merasakan betapa nyamannya perasaanmu, ketika semua ketegangan dan tekanan sirna di saat kamu memperbolehkan dirimu untuk melakukan kesalahan?

Masalahnya kita cenderung membesar-besarkan kesalahan dan melupakan keberhasilan, sehingga menciptakan begitu banyak beban berat dan rasa bersalah. Sebaliknya kita harus mengalihkannya kepada keberhasilan kita, hal-hal baik yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita; kita dapat menyebutnya sifat Buddha dalam diri kita. Jika kamu beralih kepadanya, maka ia akan tumbuh berkembang; sebaliknya jika kamu mengalihkannya kepada kesalahan, mereka juga akan tumbuh berkembang. Jika kamu merenungkan pikiran apapun dalam batin, pikiran apapun itu, ia akan tumbuh berkembang dan berkembang, bukankah demikian? Maka sebaiknya kita mengalihkan pikiran kita dan merenungkan hal-hal positif di dalam diri kita, kemurnian, kebajikan, sumber cinta yang tanpa pamrih – dengan berkeinginan untuk membantu, bahkan mengorbankan kenyamanan kita untuk kepentingan makhluk lain. Ini adalah sebuah cara agar kita bisa menghormati nurani kita, hati kita. Dengan memaafkan kesalahan, kita akan merenungkan kemuliaannya, kemurniannya, dan kebaikannya. Kita bisa menerapkan hal yang sama pada orang lain, kita bisa merenungkan kebajikan mereka dan mengamatinya tumbuh berkembang.

Inilah apa yang kita sebut dengan Kamma – perbuatan; cara kita berpikir mengenai kehidupan, cara kita berbicara mengenai kehidupan, dan apa yang kita lakukan dengan kehidupan. Dan apa yang kita lakukan benar-benar terserah kepada kita, bukan sesuai kehendak suatu makhluk gaib luar biasa di atas sana yang menentukan kamu akan bahagia atau tidak. Kebahagiaanmu sepenuhnya berada di tanganmu, dalam kekuasaanmu. Inilah yang kita maksudkan dengan Kamma. Sama seperti ketika memanggang kue, Kamma menggambarkan bahan-bahan apa yang kamu miliki, apa yang harus kamu lakukan dengannya. Jadi jika seseorang memiliki Kamma yang kurang beruntung, mungkin ini merupakan hasil dari perbuatan lampau mereka, sehingga mereka tidak memiliki banyak bahan. Mungkin mereka hanya memiliki sejumlah terigu yang sudah tersimpan lama, satu atau dua butir kismis, dan sejumlah mentega tengik dan – bahan lain yang diperlukan untuk kue itu? – sejumlah gula… jadi dengan semua bahan itulah kita bekerja. Dan orang lain mungkin memiliki kamma yang sangat bagus, semua bahanbahan yang kamu idamkan: tepung gandum berkualitas, gula merah dan semua jenis buah-buah kering dan kacang. Tetapi pada akhirnya kue itu akan tetap dihasilkan… Bahkan dengan bahan-bahan yang amat kurang sekalipun, ada sebagian orang yang dapat menjadikannya kue yang indah. Mereka mengaduk semua bahan itu, memasukkannya ke dalam pemanggang – hmm.. lezat! Bagaimana mereka melakukannya? Sebaliknya ada orang yang mungkin mempunyai segalanya, malah menghasilkan kue yang rasanya tidak karuan.

Jadi Kamma menggambarkan bahan-bahan, sesuatu yang kita miliki untuk diolah; tetapi tidak menjelaskan apa yang harus kita perbuat dengan bahan bahan tersebut. Jadi jika seseorang bijaksana, tidaklah menjadi soal bahan apapun yang ia miliki untuk diolah.Kamu masih dapat membuat sebuah kue yang indah – asalkan kamu tahu caranya.

Tentu saja hal pertama yang harus diketahui, bahwa selalu mengeluhkan bahan-bahan yang kamu miliki adalah alternatif terakhir dalam membuat kue yang bagus. Kadang-kadang di vihara, jika ada satu bahan yang kurang, orang-orang yang sedang memasak akan mencari ke dapur dan cukup menggunakan apapun yang ada. Bahan itu bisa serba guna dan kamu akan memperoleh kue-kue yang sangat aneh, tetapi semuanya terasa lezat, ini dapat terjadi karena orang-orang telah belajar seni menggunakan apa yang mereka miliki dan menghasilkan sesuatu dengannya.

Jadi ke mana arah Kamma? Apa yang sebenarnya kita lakukan? Apakah menjadi kaya dan berkuasa? Tidak. Meditasi ini, ajaran Buddha ini, arah yang kita tuju, adalah ke arah pencerahan. Kita sedang menggunakan bahanbahan yang kita miliki untuk mencapai pencerahan. Tetapi sebenarnya apa arti pencerahan itu? Pencerahan berarti tidak ada lagi kemarahan yang tersisa di dalam dirimu. Tidak ada lagi keinginan pribadi atau kebodohan yang terpendam di dalam diri.

Suatu ketika ada seorang guru Rusia bernama Gurdjief, yang memiliki sebuah komunitas di Prancis. Didalam komunitasnya, ada seorang pria yang benar-benar menjengkelkan. Ia selalu mengganggu orang-orang dan menyusahkan mereka. Maka komunitas itu mengadakan pertemuan dan mereka meminta Gurdjief mengusirnya, mengeluarkannya, karena dia selalu menciptakan percekcokan dan membuat orang-orang tidak bahagia. Tetapi Gurdjief tidak pernah mau. Akan tetapi kemudian, setelah ia meninggal, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya ia lah yang membayar pria itu untuk menetap di sana! Setiap orang yang ada di sana harus membayar untuk makanan dan tempat tinggal. Tetapi Gurdjief sebenarnya membayar pria itu agar menetap di sana – untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang itu. Jika kamu hanya bisa bahagia ketika kamu hidup dengan orang-orang yang kamu suka, kebahagiaanmu itu sama sekali tidak bernilai, karena kamu belum bergejolak. Sama seperti segelas air berlumpur, ketika belum diaduk, bukankah kelihatannya jernih? Tetapi seketika setelah diguncang, lumpur muncul dari dasar gelas dan air menjadi keruh. Alangkah baiknya kamu menggoyangkan gelasmu untuk melihat apa yang sebenarnya terdapat didalamnya. Maka pada saat masih hidup, Gurdjief  membayar pria ini untuk mengguncang setiap orang untuk melihat apa yang terdapat di dalamnya.

Indikator yang sangat bagus untuk menilai sejauh mana tahap kehidupan spiritual seseorang adalah dengan melihat sebaik apa ia berhubungan dengan orang lain – terutama dengan orang yang tidak menyenangkan. Bisakah kamu merasa damai ketika seseorang menyusahkanmu? Bisakah kamu melepaskan kemarahan dan kejengkelan terhadap seseorang, terhadap suatu tempat atau terhadap dirimu sendiri? Pada akhirnya kita harus bisa melakukannya, jika tidak kita tidak akan pernah mendapatkan pencerahan, kita tidak akan pernah mendapatkan kedamaian.

Bayangkan bagaimana rasanya dengan berkata, “Saya tidak akan pernah merasa jengkel lagi, saya tidak akan menentang atau menolak seseorang maupun kebiasaan-kebiasaan mereka. Jika saya tidak bisa melakukan sesuatu terhadap hal ini, saya akan belajar hidup damai dengan sesuatu yang tidak saya sukai. Daripada selalu mengalihkan diri dari kepedihan dan mencari kesenangan, saya akan belajar menerima kepedihan itu dengan damai.” Bayangkan hal itu!

Kadang-kadang orang berpikir bahwa jika kamu tidak marah maka kamu cenderung seperti sayuran, kamu terus membiarkan orang lain menginjakmu, kamu hanya akan menjadi seseorang yang duduk berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Tetapi tanyakan pada dirimu sendiri, “Bagaimana perasaanmu setelah marah? Apakah kamu merasa berapi-api, penuh semangat?” Kita akan kelelahan ketika marah; kemarahan menghabiskan begitu banyak energi kita. Bahkan ketika kita merasa jengkel atau berpikiran negatif terhadap seseorang atau suatu tempat, itupun sudah menghabiskan energi. Maka jika kita tidak ingin merasa begitu letih dan tertekan, sebagai percobaan, kita bisa mencoba untuk tidak merasa jengkel. Lihat betapa kita akan menjadi lebih sigap dan lebih bergairah. Kemudian kita dapat memancarkan energi itu dalam bentuk kepedulian terhadap sesama dan juga terhadap diri kita sendiri. Kita memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini. Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan jalur cepat menuju pencerahan, cobalah dengan menghentikan kejengkelan dan kemarahan.

Jadi bagaimana kita menghentikannya? Pertamatama, dengan menginginkannya berhenti. Tetapi kebanyakan dari kita tidak menginginkan berhentinya kemarahan dan kejengkelan tersebut – dengan alasan yang tidak jelas kita menyukainya. Ada sebuah cerita pendek yang menarik mengenai dua orang bhikkhu yang tinggal bersama-sama di sebuah vihara selama bertahun-tahun, mereka bersahabat karib. Kemudian merekapun meninggal dengan perbedaan kurun waktu beberapa bulan. Salah seorang dari bhikkhu tersebut terlahir kembali di alam surga, sedangkan yang satunya lagi terlahir kembali sebagai seekor cacing di setumpuk kotoran. Ia yang berada di alam surga mendapatkan kehidupan yang menyenangkan, menikmati semua kesenangan surgawi. Kemudian ia mulai memikirkan sahabatnya, “Saya ingin tahu di manakah sahabat lama saya?” Maka ia menerawang semua alam surga, akan tetapi ia tidak menemukan jejak sahabatnya. Kemudian ia menerawang alam manusia, tetapi ia juga tidak menemukan jejak sahabatnya di sana. Jadi ia mencarinya di alam binatang dan kemudian serangga. Akhirnya ia menemukannya, sahabatnya terlahir kembali sebagai seekor cacing di setumpuk kotoran… Wah! Ia berpikir, “Saya akan membantu sahabat saya. Saya akan turun menuju tumpukan kotoran tersebut dan membawanya ke alam surga, sehingga ia juga bisa menikmati kesenangan surgawi dan hidup dalam kebahagiaan di alam-alam yang menyenangkan ini.”

Jadi ia pun turun menuju tumpukan kotoran tersebut dan memanggil sahabatnya. Cacing kecil itu menggeliat keluar dan bertanya, “Siapa kamu?”, “Saya adalah sahabatmu. Kita pernah hidup bersama sebagai bhikkhu pada kehidupan yang lampau, dan saya bermaksud membawamu ke alam surga yang kehidupannya menyenangkan dan penuh kebahagiaan.” Tetapi cacing itu membalas, “Pergilah, menjauhlah!”, “Tetapi saya sahabatmu, dan saya tinggal di alam surga,” dan ia pun menjelaskan alam surga kepadanya. Tetapi cacing itu berkata, “Tidak, terima kasih. Saya cukup gembira di sini, dalam tumpukan kotoran saya. Silakan pergi.” Kemudian makhluk surga ini berpikir, “Jika saya bisa memegangnya dengan erat dan membawanya ke alam surga, ia akan bisa melihat sendiri.” Maka ia pun memegang erat cacing itu dan mulai menariknya, dan semakin kuat ia menariknya, semakin kuat pula cacing itu melekat pada tumpukan kotorannya.

Apakah kamu dapat memetik pesan moral dari cerita di atas? Berapa banyak dari kita yang melekat pada tumpukan kotoran kita? Ketika seseorang mencoba menarik kita keluar, kita terus menggeliat kembali kedalam, karena inilah yang menjadi kebiasaan kita, kita suka berada di dalamnya. Kadang-kadang kita sebenarnya melekat kepada kebiasaan-kebiasaan lama kita, kemarahan kita dan keinginan kita. Kadang-kadang kita ingin marah.

Jadi lain kali ketika kamu marah, berhentilah dan amati. Sadarlah sesaat dengan memperhatikanbagaimana perasaan itu. Ambil keputusan, peringatkan dirimu sendiri. “Lain kali ketika saya marah, saya akan merasakannya, bukannya menjadi sok pintar, menempuh caraku sendiri atau melukai orang lain”. Hanya memperhatikan bagaimana perasaan itu. Seketika setelah kamu memperhatikan kemarahan tersebut dengan hatimu – bukan dengan kepalamu – maka kamu akan menginginkannya berhenti, karena hal ini sangatlah menyakitkan, memedihkan, dan penuh penderitaan.

Hanya jika orang-orang bisa lebih mawas diri, lebih sadar – menyadari bagaimana rasanya, bukan dengan berpikir mengenainya, maka tidak akan ada persoalan lagi. Mereka akan melepaskan kemarahan dengan sangat cepat karena kemarahan itu panas, membakar. Tetapi kita cenderung melihat dunia ini dengan kepala daripada dengan hati kita. Kita memikirkannya, tetapi kita sangat jarang merasakannya, mengalaminya. Meditasi mulai membimbingmu berhubungan kembali dengan hatimu; dan keluar dari pemikiran dan keluh kesah, tempat dimana semua kemarahan dan keinginan berasal.

Ketika kamu memulainya dari hatimu, kamu bisa merasakannya sendiri, kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kamu bisa peduli terhadap dirimu sendiri. Ketika saya memulainya dari hati, saya juga bisa menghargai perasaan orang lain. Demikianlah bagaimana kita bisa mencintai musuh kita, ketika kita menghargai perasaan orang lain pula. Demikianlah bagaimana kita bisa mencintai musuh kita, dengan menghargai perasaan mereka, melihat sesuatu dari mereka untuk dicintai, dihormati.

Orang-orang marah karena mereka terluka, merasa tidak nyaman, tetapi jika kita bahagia, kita tidak akan pernah bisa marah pada orang lain, hanya jika kita merasa tertekan, lelah, frustrasi, susah, ketika ada rasa sakit dalam hati kita, saat itulah kita bisa marah kepada orang lain. Jadi ketika seseorang marah kepada saya, timbul rasa kasih sayang dan kebaikan saya terhadap orang itu, karena saya menyadari mereka sedang terluka.

Pertama kali saya mengunjungi seseorang yang dianggap telah tercerahkan, saya berpikir, “Wah! Lebih baik saya bermeditasi sebelum saya berada dalam jarak sepuluh mil darinya, karena ia pasti bisa membaca pikiran saya dan hal ini tentu saja sangat memalukan!” Akan tetapi seorang yang tercerahkan tidak akan bertindak kejam dan menyakitimu. Seorang yang tercerahkan akan menerimamu dan memberimu rasa nyaman. Itulah perasaan yang luar biasa, bukankah demikian; hanya dengan menerimamu apa adanya. Kamu hanya perlu menenangkan diri, tidak ada kemarahan dan kejengkelan. Yang ada hanyalah pengertian yang mendalam, pencerahan yang luar biasa, bahwa kamu baik-baik saja. Betapa banyak kepedihan yang bisa disingkirkan dari kehidupan manusia, betapa besar kebebasan yang bisa diberikan kepada orangorang untuk hidup di dunia, untuk melayani dunia, untuk mencintai dunia ini, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka baik-baik saja. Mereka tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk meyakinkan diri bahwa mereka telah bertindak benar, mengubah diri mereka, selalu takut berbuat kesalahan. Ketika kamu merasa nyaman dengan dirimu, kamu akan merasa nyaman dengan orang lain, tidak menjadi soal siapapun mereka.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin

CERITA-CERITA ISTANA ALAM DEWA (VIMANAVATTHU)

 

DAFTAR ISI

CERITA-CERITA ISTANA ALAM DEWA
(VIMANAVATTHU)

Sumber :
Judul asli : The Minor Anthologies of the Pali Canon Part IV
Vimanavatthu : Stories of the Mansions
Oleh : I.B. Horner
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh :
Dra. Wena Cintiawati
Dra. Lanny Anggawati
Editor:
Y.M. Jotidhammo Thera M.Hum.
Rudi Ananda Limiadi, S.Si.,M.M.
Penerbit:
Wisma Sambodhi Klaten
Edisi Pertama, cetakan pertama, Maret 2005







PEMBAGIAN PERTAMA
ISTANA-ISTANA PARA PEREMPUAN





01.
Istana Tempat Duduk
02.
Istana Tempat Duduk, Kedua
03.
Istana Tempat Duduk, Ketiga
04.
Istana Tempat Duduk, Keempat
05.
Istana Gajah
06.
Istana Perahu
07.
Istana Perahu. Kedua
08.
Istana Perahu, Ketiga
09.
Istana Lampu
10.
Istana Dana Wijen
11.
Istana Perempuan Setia
12.
Istana Perempuan Setia, Kedua
13.
Istana Menantu Perempuan
14.
Istana Menantu Perempuan, kedua
15.
Istana Uttara
16.
Istana Sirima
17.
Istana Kesakari






PEMBAGIAN KEDUA
CITTA LATA





01.
(18) Istana Pelayan Perempuan
02.
(19) Istana Lakhuma
03.
(20) Istana Pemberi Kerak Nasi
04.
(21) Istana Candali
05.
(22) Istana Perempuan Elok
06.
(23) Istana Sonadinna
07.
(24) Istana Uposatha
08,09.
(25,26) Istana Nidda & Sunidda
10.
(27) Istana Pemberi Dana Makanan
11.
(28) Istana Pemberi Dana Makanan, Kedua






PEMBAGIAN KETIGA
PARICCHATTAKA





01.
(29) Istana Elok
02.
(30) Istana Tebu
03.
(31) Istana Dipan
04.
(32) Istana Lata
05.
(33) Istana Guttila
06.
(34) Istana yang Kemilau
07.
(35) Istana Sesavati
08.
(36) Istana Mallika
09.
(37) Istana Visalakkhi
10.
(38) Istana Pohon Koral






PEMBAGIAN KEEMPAT
MERAH TUA





01.
(39) Istana Merah Tua
02.
(40) Istana yang Bersinar
03.
(41) Istana Gajah
04.
(42) Istana Aloma
05.
(43) Istana Pemberi Bubur Nasi
06.
(44) Istana Vihara
07.
(45) Istana Empat Perempuan
08.
(46) Istana Mangga
09.
(47) Istana Kuning
10.
(48) Istana Tebu
11.
(49) Istana Penghormatan
12.
(50) Istana Rajjumala






PEMBAGIAN KELIMA
KERETA KENCANA BESAR





01.
(51) Istana Dewa Katak
02.
(52) Istana Revati
03.
(53) Istana Chatta, Seorang Pemuda Brahmana
04.
(54) Istana Pemberi Sup Kepiting
05.
(55) Istana Penjaga Pintu
06.
(56) Istana Yang Harus Dikerjakan
07.
(57) Istana Yang Harus Dikerjakan, Kedua
08.
(58) Istana Jarum
09.
(59) Istana Jarum, Kedua
10.
(60) Istana Gajah
11.
(61) Istana Gajah, Kedua
12.
(62) Istana Gajah, Ketiga
13.
(63) Istana Kereta Kencana Kecil
14.
(64) Istana Kereta Kencana Besar






PEMBAGIAN KEENAM
PAYASI





01.
(65) Istana Rumah
02.
(66) Istana Rumah, Kedua
03.
(67) Istana Pemberi Buah
04.
(68) Istana Pemberi Tempat Bernaung
05.
(69) Istana Pemberi Tempat Bernaung, Kedua
06.
(70) Istana Pemberi Dana Makanan
07.
(71) Istana Penjaga Barli
07.
(72) Istana Pemakai Anting
09.
(73) Istana Pemakai Anting, Kedua
10.
(74) Istana Uttara






PEMBAGIAN KETUJUH
SUNIKKHITTA





01.
(75) Istana Cittalata
02.
(76) Istana Nandana
03.
(77) Istana Tugu Permata
04.
(78) Istana Emas
05.
(79) Hutan Mangga
06.
(80) Istana Penggembala Sapi
07.
(81) Istana Kanthaka
08.
(82) Istana Berbagai Warna
09.
(83) Istana Mattakundalin
10.
(84) Istana Serissaka
11.
(85) Istana Sunikkhitta


KARMA, KELAHIRAN KEMBALI, DAN ILMU GENETIKA
Oleh :  Buddhadasa. P. Kirthisinghe

Kebahagiaan dan penderitaan, yang umum dialami sebagai nasib dari semua makhluk hidup, terutama bagi manusia, itu menurut pandangan Agama Buddha, tidak dianggap sebagai hadiah atau hukuman, yang diberikan oleh seorang Deva kepada roh yang telah melakukan perbuatan yang baik atau yang buruk. Umat Buddha mempercayai hukum alam, yang dinamai hukum 'sebab dan akibat', yang umum berlaku pada semua gejala-gejala alam. Umat Buddha tidak percaya kepada seorang Deva yang dianggap maha kuasa, dan oleh karena itu hukum 'sebab dan akibat', yang merupakan hukum alam itu, berlakunya tidak dapat dihambat oleh Deva, bahwa juga tidak dapat dihambat oleh semua Buddha, walaupun semua Buddha itu telah memiliki cinta-kasih yang universal.

Hukum 'sebab dan akibat' itu dalam bahasa Sanskrit, dinamai 'karma' dan didalam bahasa Pali, dinamai 'kamma', yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan didalam Agama Buddha. Didalam kata-katanya Sang Buddha, kita temui ajaran yang bunyinya sebagai berikut: " 'Karma' kita sendirilah, atau perbuatan kita sendirilah, yang baik, dan yang buruk, yang menghadiahi dan menghukum kita". Apakah 'karma' itu?. 'Karma' adalah suatu kekuatan, yang kebajikannya, menimbulkan reaksi yang mengikuti sesuatu aksi; 'karma' adalah energi yang membuat jalan keluar; atau yang menyebabkan kita sekarang ini, hidup di alam ini; dan kehidupan kita yang baru ini adalah merupakan suatu aliran kehidupan yang tak habis-habis energinya, yang mengalir secara berlanjut, tanpa henti-hentinya.

Oleh karena itu, Yang Mulia Piyadassi Thera berkata : "Selama ada kemauan selama itu ada perbuatan. Selama ada perbuatan, selama itu ada suatu realitas kejam, yang timbul sebagai akibat dari suatu 'karma' yang buruk; dan selama ada perbuatan, hadiah serta hukuman, itu bukan merupakan kata-kata yang kosong. Keinginan itu menimbulkan perbuatan; perbuatan menimbulkan hasil; hasil itu mempertunjukkan dirinya sebagai suatu corporealitas baru, yang diisi dengan keinginan yang baru. Energi yang bersifat kenyal (= elastis) itu selalu mengubahnya menjadi kehidupan yang segar, dan kita hidup secara abadi melalui keinginan kita yang kuat untuk hidup. Adapun yang menjadi medium-nya, sarana-nya, yang membuat semua kemungkinan itu ada, adalah 'karma'.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Paul Bahlke, dari Jerman, yang dikemukakan didalam naskahnya yang berjudul 'Essay-Essay Buddhis', kita juga berpendapat bahwa, adalah pengetahuan tentang hukum sebab dan akibat, aksi dan reaksi, yang mendorong seseorang untuk mencegah dirinya untuk tidak berbuat jahat dan untuk memperbanyak perbuatan-perbuatan yang baik. Seseorang yang mempercayai hukum sebab dan akibat, mengetahui dengan sangat baik, bahwa hanya perbuatan dirinya sendirilah, yang membuat kehidupannya berisi penderitaan, dan sebaliknya, hanya perbuatan dirinya sendiri pula, yang membuat kehidupannya berisi kebahagiaan.

Keadaan seseorang, hari ini, adalah merupakan hasil dari jutaan pengulangan-pengulangan dari fikiran-fikiran dan perbuatan-perbuatannya. Dia bukan makhluk yang sekali tercipta telah berkeadaan seperti sekarang ini; dia berkeadaan selalu menjadi keadaan yang baru, dan senantiasa tetap mengalami perubahan-perubahan, menjadi sesuatu yang baru, berikutnya lagi. Watak-wataknya ditentukan sebelumnya, oleh pemilihan-pemilihannya sendiri. Jenis fikirannya, dan jenis perbuatannya, yang dia pilih, menjadi kebiasaan-kebiasaannya, dan selanjutnya ini menentukan dia untuk menjadi manusia dengan watak-watak yang tertentu.

"Karma itu secara mutlak bersifat tidak mengenal belas kasihan, dan cara bekerjanya tidak pandang bulu. Sama keadaannya seperti sebuah cermin yang telah dibersihkan dengan sangat baik, itu mampu memantulkan pada permukaannya, gambar yang sebaliknya, hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, demikian juga "karma" itu dapat memberikan kepada orang yang melakukan perbuatan, akibat yang membalik, yang tepat sama dengan jenis perbuatan yang telah dilakukannya."

Yang tersebut dimuka tadi, sama seperti sabda Sang Buddha, sebagai berikut : "Tidak ada tempat untuk persembunyian di langit, atau di kedalaman dari samudera, pun juga tidak dapat dengan cara masuk ke dalam gua di sebuah gunung, atau juga di mana pun di Bumi ini, jika anda ingin menghindar dari terkena akibat dari buah perbuatan anda."

Cara untuk bebas dari 'karma' tidak dapat diajarkan, itu hanya dapat dihayati; tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan menghayati kebajikan-kebajikan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan didalam kehidupan. Setiap individu haruslah merasa perlu untuk dapat bebas dari ikatan karma. Didalam tangan kita sendirilah letak dari kekuatan pembentuk nasib kita sendiri. Orang-orang lain dapat menolong kita secara tidak langsung, tetapi kebebasan dari penderitaan, itu haruslah kita sendiri yang melakukannya, dan kita sendirilah yang haruslah menempa, dengan landasan diri kita sendiri pula.

Psychologi (= ilmu-jiwa)-nya Buddhis, mengungkapkan bahwa pada diri manusia itu terdapat kemungkinan-kemungkinan yang masih bersifat terpendam, dan potensi-potensi untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan itu harus diperkembangkan dan direalisir, dengan usaha-usaha yang nyata. Manusia adalah merupakan kumpulan dari perbuatan-perbuatan yang baik dan yang jahat. Dia selalu mengalami perubahan, ke arah menjadi baik, atau menjadi jahat. Perubahan ini tidak dapat dihindari, dan tergantung sama sekali kepada perbuatan-perbuatannya sendiri, dan tidak tergantung kepada sesuatu yang lain. Dengan perbuatan-perbuatan kita, kita membentuk watak-watak kita, kepribadian kita, individual kita. Harus hanya melalui perbuatan-perbuatan kita sendiri saja, kita dalam berusaha untuk mengubah kembali diri kita, dan untuk memenangkan atau membebaskan diri kita, dari penderitaan-penderitaan.

Adalah keharusan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah keinginan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah ketergantungan kita kepada hiduplah, yang membuat permainan aksi dan reaksi, yang tak ada henti-hentinya ini, bergerak terus dengan tidak putus-putusnya. Selama kita gagal untuk melihat sifat yang sebenarnya dari hukum sebab dan akibat, sifat yang sebenarnya dari persebaban moral, selama itu pula masih terdapat keinginan dan ketidak-tahuan didalam diri kita, dan dengan demikian kita akan masih berkeadaan terikat kepada "Roda Kelahiran dan Kematian Secara Berulang-Ulang" itu. Apabila unsur penyebab dari sesuatu, telah dapat kita hancurkan maka secara automatis kemunculan unsur akibatnya, akan berhenti. Penderitaan akan menjadi lenyap, apabila akar-akar yang kecil-kecil dan bermacam-macam, dari penderitaan, telah dapat dilenyapkan. Seseorang, misalnya, yang membakar biji buah mangga, hingga menjadi abu, mengakibatkan berhentinya kekuatan pertumbuhan, dan biji buah mangga itu tidak akan pernah dapat menjadi sebuah pohon buah mangga. Itu sama keadaannya dengan yang terjadi pada sesuatu yang terkena persyaratan-persyaratan (= terkena kondisi-kondisi) dan yang terdiri dari komponen-komponen, apakah itu benda mati, atau makhluk hidup.

Sama seperti bahwa bayangan itu mengikuti bendanya, dan sama seperti bahwa asap itu muncul setelah ada api, demikian jugalah unsur akibat itu baru muncul, setelah ada unsur penyebabnya, dan penderitaan atau kebahagiaan itu muncul, setelah pada diri orang, ada fikiran dan perbuatan, yang bersifat buruk, atau baik. Tidak ada akibat-akibat disekeliling kita, di dunia ini, kecuali ada unsur-unsur penyebabnya, yang mungkin tidak tampak, atau belum terbabar, yang lalu mangejawantah (= manifest); dan bagaimana pun jenis penyebabnya, itu menghasilkan akibat-akibat, yang perbandingannya tepat sama dengan jenis-jenis penyebabnya. Orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa penderitaan, karena di masa yang lampau, yang waktunya dekat, atau jauh (di masa kelahirannya yang lampau), atau dalam kelahirannya yang sekarang ini, mereka pernah menanam benih kejahatan; dan orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa kebahagiaan, karena hal itu merupakan hasil perbuatan mereka di masa yang telah lalu, dalam menanam benih kebaikan-kebaikan.
  • "Seseorang yang bekerja sangat keras, mengerjakan tugasnya sebagai pelayan, mungkin saja, pada suatu ketika, didalam, kelahirannya yang akan datang, menjadi Pangeran yang baru.
  • Seorang Raja yang memerintah sebuah Kerajaan, mungkin saja, lalu dalam kehidupannya di dunia, pada kelahirannya yang akan datang, menjadi pengembara yang miskin, dengan pakaian compang-camping, karena dalam kehidupannya yang sekarang ini, Sang Raja telah berbuat sesuatu yang sangat buruk, dan telah melalaikan kewajibannya dalam berbuat kebaikan."
Biarlah seseorang mau bermeditasi terhadap ajaran tentang hukum sebab dan akibat ini, biarlah dia berusaha untuk memahaminya, dan semoga dia rajin menanam benih-benih kebaikan, dan rajin pula melenyapkan bintik-bintik kotor dari sifat-sifat jahatnya, yang terdapat didalam hatinya, yang merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan jahatnya di masa kelahirannya yang lampau, bagaikan petani yang rajin melenyapkan rumput-rumput pengganggu tanaman di kebunnya.

KELAHIRAN KEMBALI

Kelahiran kembali, atau keadaan tetap hidup terus sesudah orang meninggal dunia (dan lalu pada suatu ketika terlahirkan lagi di dunia), diterima sebagai fakta kehidupan, didalam Agama Buddha. Energi atau kekuatan yang terkumpul ini berlanjut terus untuk memanifestasikan diri pada kesadaran di berbagai lapisan alam lainnya. Menurut hukum konservasinya energi dan hukum bahwa zat itu tidak dapat dihancurkan, kita yakini bahwa didalam proses kelahiran kembali, itu tidak ada sesuatu yang hilang. Vitalitas atau kekuatan karma yang lenyap dari tubuh kita, itu lalu (didalam kelahiran kembali) memulai cyclus pengambilan tubuh, yang baru.

Kekuatan karma tersebut adalah aliran kehidupan (= santati = life flux) yang berlanjut terus dalam mencari jalan untuk memanifestasikan dirinya, dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan berikutnya, dan energi karma ini didukung oleh kekuatan keinginan (untuk hidup). Ini adalah kekuatan karma yang sifatnya tidak nampak.

'Karma' adalah suatu bentuk energi, yang kita bawa dari kehidupan yang satu (kelahiran yang satu) ke kehidupan (kelahiran) yang berikutnya yang bersifat 'kusala' dan 'akusala', yaitu yang sifatnya baik dan buruk. Apabila kita telah meninggal dunia, materi karma kita, berubah didalam bentuk energi, sampai dicapainya rahim yang bersesuaian, dimana telur (= ovum) dan mani (= sperma) bergabung, untuk memvitalisasikannya. Sang Ayah dan Sang lbu hanya menyediakan materi untuk kehidupan makhluk yang baru. Faktor karma atau kekuatan individual (vinnana, atau kesadaran kelahiran kembali) adalah keadaan yang mengkondisikan, mempersyarati, suatu kehidupan yang baru. Ini tidak menyangkal keterangan dari ilmu pengetahuan (= science) tentang genetika, yang menerangkan bahwa anak itu mewarisi ciri-ciri dari orang tuanya dan sanak keluarganya yang dekat. Seorang anak itu juga dibentuk oleh lingkungan sekitar sosial, tetapi semuanya itu dikondisikan oleh "karma"-nya.

Didalam Agama Buddha, diterangkan bahwa terdapat lima dunia kehidupan, yang berkeadaan berbeda yang satu dengan yang lainnya, dan oleh karena itu, memungkinkan terdapatnya lima jalan untuk kelahiran kembali. Adapun ke-lima alam kehidupan itu adalah : alam kehidupan hewan, alam kehidupan roh (yang dinamai "spirit' atau "ghost"), alam neraka, alam kehidupan manusia, dan alam "sakkaloka" atau surga.

ILMU PENGETAHUAN GENETIKA

Ilmu Genetika adalah studi mengenai physiology tentang reproduksi (menurunkan jenis, mempunyai keturunan) dan ketrampilan mengembang-biakkan tanam-tanaman dan hewan-hewan.

Semua warisan (= heredity) itu ditransmisi-kan (= diliyerkan) dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui cel-cel sex yang sangat kecil, yang dinamai sperm (= mani, pada pria) dan ova (= telur, pada wanita). Kedua cel itu bergabung didalam rahim, untuk membentuk telur yang dibuahi, yang tumbuh menjadi foetus (= janin bayi) dan akhirnya lahirlah seorang bayi.

Ayah dan ibu itu keduanya penting didalam transmisi, atau peliyeran, warisan. Inti-inti dari cel-cel sex itu berisi chromosome-chromosome, dan setiap sperma manusia itu berisi 24 chromosome, separo (= setengah) dari jumlah itu berisi cel-cel yang normal, dan jumlah ini bervariasi pada hewan-hewan lainnya dan pada tanam-tanaman.

Fertilisasi atau pembuahan itu terdiri dari bergabungnya inti sperma dengan inti ovum. Cel telur yang telah dibuahi ini lalu membagi dua, lalu menjadi empat, lalu menjadi delapan, dan akhirnya menjadi bilyunan cel-cel tubuh orang dewasa. Gregor Johann Mendel meng-identifikasi-kan unit-unit warisan sebagai gene-gene. Kita dapati unit-unit kehidupan didalam chromosome-chromosome dan didalam molekul yang wujudnya sangat kecil. Setiap ciri yang tampak pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan itu mempunyai gene-gene, yang seperti telah dikatakan dimuka, itu dibawa chromosome-chromosome, yang terdapat didalam inti-inti dari semua cel kehidupan. Mendel telah menemukan hukum pewarisan, sebagai berbanding 3 dan 1, pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan. Beliau juga telah menemukan gene-gene yang dinamai yang bersifat dominant dan yang bersifat recessive. Eksperimen klassik beliau telah menolong memperkuat theori-theorinya Charles Darwin, mengenai : asal dari jenis-jenis (= the origin of species), sekesi alamiah (= the natural selection). Dan tentang "Perjuangan untuk dapat tetap hidup dengan jalan mengadakan penyesuaian-diri, siapa yang kuat akan dapat tetap hidup terus" (= the survival of the fittest in the struggle for existence).

Sekarang telah diketahui bahwa gene-gene itu memisah diri menjadi separo (= setengah) dari jumlah mereka didalam cel-cel sex (sperma dan ovum), dan dinamai haploid-haploid dan menggabung kembali didalam telur yang sudah dibuahi, untuk membentuk suatu complement yang lengkap dari gene-gene, seperti cel-cel orang tuanya (= induknya).

Oleh karena itu anak-anak didalam sesuatu keluarga menjadi tampak serupa. Tetapi dari sudut moral, intelleklual, dan emosional, kemiripan mereka itu dapat sangat dekat, atau sangat jauh. Inilah yang dimaksudkan dengan 'karma' yang dikondisikan, yang dipersyarati. Orang tua yang tinggi intelleknya, dapat menurunkan anak-anak yang bodoh, atau sebaliknya, tergantung dari, 'karma' orang tuanya, dan 'karma' anak-anaknya.

Terdapat studi yang sangat menarik terhadap anak-anak kembar, yaitu studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, dengan studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi, yang menghasilkan dua anak kembar. Adalah bersifat alamiah bagi anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, yang hasilnya menunjukkan kesamaan warisan (= hereditary) yang berkeadaan berbeda, sebagai saudara-saudara perempuan dan saudara-saudara laki-laki yang biasa. Tetapi itu tidak benar bagi anak kembar dua yang identik, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi dan lalu menjadi dua anak kembar.

Telah diselidiki oleh team sarjana besar - yaitu : Newman, Freeman, dan Holzinger dari Universitas Chicago yang termasyhur itu -, bahwa setelah anak kembar dua dari satu telur itu tumbuh menjadi besar, mulai tampak terdapat perbedaan-perbedaan diantara mereka itu. Yang satu mungkin berat tubuhnya sedikit lebih dari yang satunya; yang satu mungkin lebih cepat pandai didalam belajar, dari pada yang satunya; yang satu bersifat mudah marah atau mudah tersinggung dari pada yang satunya. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa ada perbedaan, memisahkan diri, tidak lagi tetap berkeadaan sama, sebagai yang sama-sama berasal dari genetica dari anak kembar yang identik, itu adalah karena itu dikondisikan, dipersyarati, oleh 'karma', - hal ini merupakan suatu faktor yang tak dapat dihindarkan.


REFERENSI.
- Baptist, Egerton C.
The Supreme Science of the Buddha, Ceylon, 1954
- Carter, C.O
Human Heredity, Pelican, 1969.
- Dahlke, Paul
Buddhist Essays, Ceylon, 1961.
- Dunn & Dolzhansky
Heredity, Race and Society, Mentor Book, 1960.
GALAXI-GALAXI DAN SUNYATA
Oleh : Buddhadasa P. Kirthisinghe

Sang Buddha, didalam naskah "Sunna Sutta", menerangkan tentang kekosongan dari semua phenomena (= gejala-gejala) dunia. Apabila atom-atom yang organic, dan yang inorganic, serta molekul-molekul itu dipecah, atom-atom dan molekul-molekul tersebut mengeluarkan energi. Dapat ditunjukkan bahwa doktrin ini dapat diapplikasikan kepada segala sesuatu yang terdapat di alam semesta yang maha perkasa, dengan galaxy-galaxy-nya yang maha besar.

Kekosongan (= Voidness) itu bukan sesuatu yang tidak ada (= nothing), tetapi lebih merupakan sesuatu yang tidak bersifat materi (= no-thing); sesuatu yang tidak bersifat materi itu tidak dapat kita ketahui dengan mempergunakan kesadaran yang terbatas. Apa yang kita sadari didalam keadaan transcendental itu hanya dapat kita deskripsikan sebagai sesuatu yang tidak bersifat materi atau kekosongan.

Panas yang memancar dari matahari itu berasal dari berfusinya inti dari inti hydrogen yang membentuk helium, yang terjadi hanya pada temperatur beberapa juta derajat.

Dengan mempergunakan alat spectrographic, dapat kita lihat bahwa lebih dari dua pertiga dari elemen-elemen yang telah kita ketahui identifikasinya itu berada dilapisan-lapisan bagian luar dari Matahari, sedang meteorit-meteorit itu mengandung keseluruhan elemen-elemen yang sampai dengan 90 jumlahnya, dari hydrogen hingga uranium. Oleh karena itu, secara aman dapat kita katakan bahwa keseluruhan dari alam semesta ini tersusun dari elemen-elemen yang sama. Hydrogen itu mendominasi arena alam semesta dan helium berada didalam urutan kedua. Pada temperatur sepuluh hingga lima puluh juta derajat, hydrogen mengalami transformasi menjadi helium. Didalam proses ini, yang dinamai pembakaran hydrogen, dihasilkan panas yang luar biasa hebatnya. Pada temperatur-temperatur tersebut, helium mengalami perubahan menjadi exygen, carbon dan neon, tetapi adanya panas yang luar biasa, elemen-elemen tersebut pecah secepat elemen-elemen itu terbentuk.

Begitu sesuatu Bintang itu mengalami pertumbuhan, di lapisan dalam terbentuk penutup yang terdiri dari oxygen, yang dikelilling oleh mantel hydrogen. Pada pusat dari bagian yang paling panas (= tungku pembakaran) dari Bintang, pada temperatur yang makin menaik, hingga satu juta derajat, terbentuklah magnesium, sillicon, phosphorus, sulphur, chlorine, argon dan calcium. Ini memberi gambaran mengenai titik dalam keadaan gas, yang energinya terdiri dari partikel-partikel subatomic, misalnya neutron-neutron, proton-proton, dan elektron-elektron. Partikel-partikel tersebut bergabung dan membentuk atom-atom, dan atom-atom di dalam berbagai proporsi, membentuk elemen-elemen.

Sistem Matahari kita mengalami kondensasi menjadi bentuk yang sekarang ini, dari gas cosmic, kira-kira empat setengah juta tahun yang lampau. Sebuah galaxy itu berputar pada pusatnya, empat atau lima kali didalam satu billion tahun, sedang bumi kita ini mengitari matahari didalam satu tahun.

Didalam awan-awan galactic yang berupa gas cosmic, ber-evolusi-lah bintang-bintang yang mempunyai sistem planitnya sendiri-sendiri, beberapa diantaranya mungkin ber-evolusi kehidupan didalam billionan tahun. Dari gas cosmic, matahari-matahari ini menghasilkan beberapa inti elemen-elemen yang ada di alam semesta ini. Ini membutuhkan waktu billion-an tahun sebelum matahari dan sistem planitnya dapat dibentuk.

Professor Berrill menulis : "Kejadian-kejadian yang membawa elemen-elemen yang ringan melalui kombinasi-kombinasinya molekuler secara berurut-urutan ke mulainya kompleksitas, responsive-nya dan kapasitas-kapasitas-nya cel-cel hidup, itu sungguh-sungguh merupakan suatu tata-kehidupan yang baru, apabila kita bandingkan dengan kimiawinya molekuler dari suatu bintang."

Galaxy-galaxy terbentuk ketika gas primordial yang meluas secara uniform itu pecah menjadi milyunan galaxy-galaxy dan kondensasi-kondensasi yang terpisah, didalam galaxy, menjadi billion-an bintang-bintang dan sistem-sistem planetnya.

Keduanya, baik Kant maupun Laplace, ber-assumsi bahwa matahari kita yang masih muda itu dikelilingi oleh penutup, yang zatnya terdiri dan gas tipis yang berbentuk lensa, yang kemudian mengalami kondensasi menjadi planit-planit yang individual. Ini adalah pandangan modern tentang pembentukan sistem planit kita, didalam mana kita hidup didalamnya. Oleh karena itu, didalam alam semesta ini, kita dapat mengharap adanya bintang lainnya, yang mempunyai kesempatan baik untuk dirinya dapat menghasilkan suatu sistem planit.

Terdapat bintang-bintang yang sedang mengalami peledakan dan ada bintang-bintang yang sudah mati. Begitu sistem matahari baru lahir, yang lainnya mengalami disintegrasi menjadi berkeadaan gas, dan mungkin, akan muncul lagi, setelah jutaan-jutaan tahun, sebagai suatu sistem tata-surya yang baru. Hal yang demikian itu dapat terjadi terhadap tata surya kita ini. Ya, bahkan, sifat tidak-manusiawi (= inhumanity) yang terdapat didalam diri kita, mungkin bertanggung-jawab atas hancurnya planit kita sendiri, menjadi keadaan gas, dengan penggunaan alat-alat superhydrogen.

Sang Buddha bersabda bahwa hanya ketidak-terikatan-lah yang dapat menjadi harapan untuk mencapai pengertian, dan ini tepat sama dengan applikasi-applikasi masa sekarang ini, terhadap masyarakat kita, yang telah terbebani oleh ilmu pengetahuan.*)

REFERENSI
Lovell, A.C.B.
"The Individual and the Universe", Oxford Packet Book, 1970.
Struve, Otto
"The Universe", M.I.T. Press, Boston, 1968
The Universe
(A Scientific American Book) 1957
Sunyata Sutta
(Buddhist Publication Society of Ceylon and Pali Text Society of London).