Entri Populer

Selasa, 10 April 2012

MENELUSURI JALAN SPIRITUAL


Buku II  MENULUSURI JALAN SPIRITUAL
Oleh  Herman Utomo & Ny. Silvie Utomo

Bab II.6 mantera dan doa

Banyak mantra Budhis dicetak dan disebarkan lewat Vihara dan Klenteng Tri Dharama. Diikuti dengan penjelasan panjang lebar mengenai keampuhan matra itu danpromosinya.

Saya tertarik satu mantra terkenal dari banyak mantra yang ada yaitu
 Ta Pei Cou atau Maha Karuna Darani. Mantra ini memang mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi, oleh karena itu tidak semua orang cocok membaca mantra ini. Pembaca mantra ini perlu punya fondasi spiritual, mempunyai wadah spiritual untuk menampung kekuatan mantra dan mempunyai pemahaman spiritual yang memadai untuk dapat mengontrol dan memanfaatkannya.

Salah satu kasus yang saya temukan, seorang ibu rumah tangga setengah tua telah membaca mantra ini setiap hari selama 10 tahun lebih, kalau satu hari saja ia tidak membaca mantra ini, terasa ada yang kurang dalm hidupnya hari itu. Hasil pembacan mantra ini, kekuatan mantra telah membuka indra ke 6-nya. Dia mulai sering melihat hal-hal gaib dan mendengar suara-suara aneh, semua ini diluar kontrol dia, sehingga dia sekarang diliputi kegelisahan dan susah tidur.

Hasil pengamatan batin saya, Ibu ini belum mempunyai fondasi dan wadah spiritual, juga belum mempunyai pemahaman spiritual yang cukup. Dia membaca mantra hanya karena tertarik promosi yan gditulis di dalam buku mantra tersebut. Saya jelaskan padanya bahwa semua yang dia alami adalah akibat pembacaan mantra yang kurang tepat, mantra Maha Karuna Dharani bukan sembarang Mantra dan tidak sembarang orang boleh membaca mantra ini. Dia ragu-ragu atas penjelasan saya, maka saya katakan kalau anda ragu, tanyakan sendiri kepada Dewi kwan Im di vihara banten, sebab mantra ini adalah mantra Dewi kwan Im. Tanyakan apakah anda masih baik untuk meneruskan pembacaan mantra ini.

Sekitar seminggu kemudian dia datang lagi ke rumah saya, dia bilang bahwa dia telah tanya ke vihara Banten dan Dewi Kwan Im melarang dia meneruskan pembacaan mantra.

Kasus lain yang saya temukan adalah Andi, berumur sekitar 50 tahun, dia sudah lebih dari 20 tahun setiap hari membaca mantra maha Karuna Dharani (
Ta Pei Cou), tapi tidak merasakan apa-apa, tidak ada yang aneh-aneh. Pengamatan bathin saya memang di dalam diri Andi tidak ada kekuatan apa-apa hasil dari pembacaan mantra hebat ini. Saya merasa heran sekali, mengapa dapat terjadi seperti ini. lalu saya tanya Andi, di Vihara mana dia melakukan ibadah. Dia mengatakan bahwa setiap tahun dia melakukan beberapa kali ibadah di sebuah Vihara di luar pulau njawa. Secara rutin dia melakukan upacara ritual besar di Vihara itu.

Dari pengamatan bathin saya, vihara tempat Andi beribadah secara rutin setiap tahun sudah tercemar. Yang ada di altar Vihara itu bukan lagi para Dewa dan roh suci, melainkan jin yang memalsukan diri sebagai para dewa di altar. Di rumah Andi di jakarta juga ada altar yang berasal dari Vihara yang tercemar ini. Jin di altar rumah Andi inilah yang menutup dan memblok mantra yang diucapkan Andi agar tidak "naik" dan menjadi kosong. Maka jerih payah Andi selama kurang lebih dari 20 tahun tidak menghasilkan apa-apa.


Bab IV buku ke 7 "Tercecer dari dialog dengan alam spiritual"

Bab IV buku ke 7 "Tercecer dari dialog dengan alam spiritual" yang merupakan kelanjutan dari buku ke 4 "Mengintip perjalanan arwah"

Munulis yang gaib atau bercerita mengenai gaib selalu memunculkan komentar, terutama orang awam. Mereka meagukan atau tidak percaya apa yang ditulis maupun yang diceritakan di dalam buku itu. Malahan ada yang mengatakan "Memangnya penulisnya sudah pernah meninggal dan pernah jalan-jalan di alam arwah, kemudian dapat balik kembali dan bercerita."

Semua komentar da anggapan seperti di atas saya sepenuhnya dapat menerima, dan semua itu wajar. Yang gaib tidak dapat ditangkap oleh panca indra, oleh karena itu boleh dianggap tidak ada. tapi apakah benar demikian? Apa yang tidak dapat dirasakan dan dideteksi oleh panca indra itu benar tidak ada?

Saya kira tidak. Banyak yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra, tetapi keberadaannya benar-benar ada. Orang yang menyepi di puncak gunung atau ditepi hutan dapat mengatakan bahwa di tempat itu sepi sunyi jauh dari hiruk pikuk dunia, itu yang dia rasakan sebab dia tidak dapat menangkap gelombang medan listrik yang sampai ke daerah itu berupa gelombang radio, gelombang TV maupun gelombang komunikasi yang lain.

Kalau dia membawa radio dan dinyalakan, maka sepi sunyi tadi menjadi tempat yang hiruk pikuk dan berisik oleh suara musik maupun percakapan, jadi yang tidak dapat ditangkap maupun yang dirasakan oleh panca indra manusia bukan berarti tidak ada, bukan berarti bohong.

Begitu juga hal gaib dari sebuah perjalanan arwah. Arwah itu ada dan perjalanan arwah juga ada. Tapi sayang bahwa saya tidak dapat meminjamkan "teropong gaib" saya kepada orang lain agar dia juga dapat ikut melihat hal-hal gaib yang saya lihat.

1. Kertas sembahyang dan rumah-rumahan.

Disetiap upacara ritual duka umat Kong Hu Cu, selalu melakukan pembakaran kertas sembahyang yang diyakini sebagai pengiriman uang kepada arwah almarhum. Pengiriman ini dilakukan terus menerus setiap hari, suatu pemborosan yang tidak perlu. "Kirim uang" boleh-boleh saja, tapi tidak perlu kelewatan seperti itu, kirimkan saja secukupnya, asal ada saja.

Apakah kertas sembahyang yang diyakini sebagai "uang" di alam arwah itu benar? Dan apakah arwah almarhum benar dapat menerima "kiriman" tersebut? Tidak selau, tergantung siapa yang melakukan pengiriman tersebut. kalau yang melakukan adalah orang awam yang membakar kertas sembahyang selembar demi selembar sepanjang hari. saya dapat menyatakan tidak ada satu lembar pun kertas uang yang berhasil terkirim kepada almarhum. kecuali pengiriman dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan spiritual untuk keperluan tersebut.

Aakan tetapi apakah "uang" yang dikirim dan setelah diterima oleh almarhum dapat dipakai untuk transaksi atau membeli kebutuhan "disana" dialam arwah? Tidak, sebab disana tidak ada jual beli.

Saya pernah mendengar seorang suhu atau cai ma mengatakan kepada keluarga almarhum bahwa tidak perlu dikirimi rumah-rumahan, kirimi saja uang sebanyak-banyaknya supaya almarhum dapat membeli sendiri "rumah disana". Suatu anjuran yang salah, disana tidak ada jual beli rumah.

Saya juga pernah diberitahu oleh tamu saya, waktu dia mau beli "rumah-rumahan" untuk dikirimkan kepada almarhum keluarganya, sesuai pesan saya, supaya dia membeli "rumah-rumahan" yang sederhana saja, yang paling murah. Si penjual mengatakan bahwa rumah yang sederhana dan murah sifatnya sementara, rumah kaki lima yang tidak permanen. Jadi akan cepat rusak dan hilang digusur. Si penjual ini ada-ada saja, dia mengira di alam arwah ada penggusuran rumah seperti di Jakarta.

semua "rumah-rumahan" yang dikirimkan ke alam arwah gentayangan atau alam arwah transisi sifatnya sementara, tidak ada yang permanen, artinya begitu arwah pemilik rumah sudah "naik" dan memulai perjalanan arwahnya, maka rumahnya otomatis akan hilang.

2. Tata cara Kong Hu Cu dan kristen

Tata cara kebudayaan Kong Hu Cu mengajarkan ummatnya untuk berbakti kepada orangtua dan leluhurnya, sehingga ritual sembahyang kepada almarhumdilakukan bertahun-tahun bahkan puluhan tahunoleh anak cucu dan buyutnya. Mereka melakukan sembahyang di altar "abu leluhur" setiap tanggal 1 dan 15 bulan imlek, dengan memberikan sajian makanan dan buah. Pada hari-hari besar sembahyangan seperti Ceng Beng, Cit Gwee, Sin cia dan lain-lain diadakan sembahyangan yang lebih besar untuk leluhurnya. Jadi keberadaan para leluhur ini dipertahankan dan dihormati hampir sepanjangn masa oleh keturunannya. Apakaha ini berguna dan perlu?

Tata cara Kristen, kalau seorang telah meninggal maka semuanya sudah selesai, semuanya sudah habis. "Dari debu kembali ke debu," Tidak ada apa-apanya lagi, tidak ada sembahyang atau ritual-ritual lainnya. Apakah ini benar dan baik?

Dari pengamatan dan pengalaman saya, kedua tata cara ini ada "plus" dan "minus" nya. Mempunyai kebenaran juga tidak ada tidak benarnya, kalau ditinjau dari sisi arwah almarhum, jadi dari sisi spiritualnya.

Tata cara Khong Hu Cu mempunyai nilai "Plus", sangat berguna bagi arwah orang yang baru meninggal maupun arwah yang sudah lama meninggal tetapi belum dapat naik dan masuk ke alam arwah, untuk memulai perjalanan arwahnya. Para arwah ini masih berada di alam arwah gentayangan atau alam transisi, masih dapat keluyuran kemana-mana, tinggal di rumahnya dulu atau berkunjung ke rumah keluarganya.

Maka tata cara mengadakan sembahyang, menyediakan makanan dan buah untuk almarhum sangat bermanfaat bagi arwah yang bersangkutan. Para arwah ini merasa kehadirannya, keberadaannya masih diingat dan masih dihormati oelh keluarganya. Ini merupakan sesuatu yang sangat menghibur, menyenangkan dan membahagiakan arwah tersebut.

Akan tetapi kalau arwah almarhum telah "naik" dan emmasuki alam arwah untuk memulai perjalanan arwahnya, maka tata cara dan upacara sembahyang dan lain-lain untuk mengundang dan menghadirkan para almarhum tersebut sudah tidak berguna, bahkan menggangu dan menghambat perjalanan arwahnya. Setiap kali diundang dan dihadirkan akan membuat arwah ini menjadi ingat kembali pada keluarga dan lain-lain. Hal seperti ini juga dapat menggangu tugas-tugas yang sedang dijalankan di alam arwah. Jadi lebih baik dipanggil dan diundang "turun" untuk menerima persembahan berupa upacara sembahyang pada hari-hari Ceng Beng atau Sin Cia, lakukan sebagai seremonial, nostalgia dan reuni keluarga besar saja, tidak perlu mengundang atau menghadirkan para arwah leluhur. Arwah leluhur yang sudah direinkarnasikan kembali, sudah putus hubungan kekeluargaan, sudah tidak dapat dihadirkan.

Bagaimana tata-cara Kristen? "Dari debu kembali ke debu," semuanya sudah seleasi, semua sudah habis, sudah "tutup buku". Jadi sudah tidak perlu ada apa-apa lagi.

Tata cara ini tentu baik sekali untuk para arwah yang sudah "naik" dan sudah menempuh perjalanan arwahnya. Tapi bagi para arwah alamarhum yang masih belum naik, arwah dari orang-orang yang baru meninggal, hal ini kurang baik bagi almarhum, mereka sedih, kecewa bahkan penasaran karena keberadaannya sudah begitu saja dilupakan, begitu cepat dilupakanoelh keluarganya, oleh orang-orang terdekatnya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan bagi arwah orang yang baru meninggal dan belum naik ke alam arwah.

Yang lebih baik adalah mengambil jalan tengah, sebelum arwah alamarhum naik, pakai tata cara Khong Hu Cu, kalau arwah sudah naik, pakai tata cara Kristen. Bagaimana mengetahui arwah almarhum sudah naik atau belum? Tanya kepada para dewa dan roh suci yang duduk di alatar klenteng Tri Dharma dengan sarana Pak Pwee. Cara tanya di alatar sudah saya jelaskan di dalam buku ke-5 "Dialaog dngan Alam Dewa" sampul merah.

3. Lebih baik Dibayar Sekarang

sudah ada beberapa buku yang menulis perjalanan ke neraka, baik versi Tao, Budhis maupun Kristen dan Khatolik. Semuanya berisi hal yang menyeramkan, penderitaan hebat dialami oleh para arwah yang sedang menjalani hukuman di alam neaka. Apakah isi tulisan dalam buku itu benar?

Dari pengamatan saya, tidak semuanya benar tapi ada juga yang benar. Tidak benar kalau dikatakan hukuman itu dijalani di alam arwah, yaitu "api pencucian" dan di "rumah hukuman". Karena berat dan hebatnya penderitaan yang dialami di "api pencucian" dan di "rumah hukuman"' ini, maka banyak yang menganggap dan mengira sudah ada di alam neraka.

Di alam neraka keadaannya jauh lebih berat, tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia, Roh yang masuk di alam neraka sudah kehilangan jati diri, bahkan tidak tahu lagi "dia itu siapa".

Hukuman dan penderitaan di alam arwah, di api pencucian dan di rumah hukuman, jauh lebih berat dibandingkan penderitaan paling berat yang dijalani atau diterima di dalam kehidupan ini, oleh karena itu jauh lebih baik semua dosa dan karma buruk manusia dapat dibayar dalam kehidupan di dunia ini, jangan tunggu atau ditunda untuk membayar di alam arwah.

Sayangnya tidak semua dosa dan karma buruk dapat dibayar di alam kehidupan duniawi ini. Ada dosa dan karma buruk yang baru dapat dibayar di alam arwah atau harus dibayar di alam arwah, seperti dosa dan karma buruk melecehkan para roh suci dan para dewa dari berbagai aliran kepercayaan atau agama, dan melanggar aturan dan hukum alam semesata, yang tidak mengakibatkan mahluk hidup lain ikut menderita. Kesemuanya ini tidak dapat dibayar dalam kehidupan duniawi.

Hukuman di alam arwah adalah dosa dan karma buruk yang belum terbayar di alam kehidupan di tambah hukuman yang harus dijalani di alam arwah. Dan Kalau masih ada sisa hukuman atau sisa karma buruk akan tetap terbawa dalam kehidupan yang akan datang, harus dibayar di kehidupannya yang akan datang.

Maka sebaiknya bayarlah dosa dan karma buruk di alam kehidupan yang sekarang ini, jangan dibawa ke alam arwah. Oleh karena itu guru roh saya mengatakan " Dalam hidup jangan takut menderita, sebab penderitaan itu nanti akan melancarkan dan meringankan perjalananmu." Sang Budha mengatakan,"Hidup adalah penderitaan". Dan Yesus berkata: "Berbahagialah oang yang menderita". Apakah anda masih ragu mengenai "kbenaran" ini? Pikirkan dan renungkan baik-baik, jangan lari dari penderitaan, bayar lunas dalam kehidupan sekarang ini. Itu jauh lebih ringan dan lebih baik.

4. Jangan Mempersulit Diri

Banyak hal yang dilakukan manusia yang dapat mempersulit dirinya sendiri, karena emosi lalu membuat ikrar atau sampah, atau ikut-ikutan orang lain yang belum tentu benar.

Saya pernah mendengar orang mengatakan kalau sekali sudah mengadakan upacara sembahyang Tuhan atau yang disebut King Dhi Kong yang diadakan tengah malam jam 12 Imlek tanggal 8, malam tanggal 9 bulan pertama, maka setiap tahun harus mengadakan, kalau tidak akan ada sanksinya, ada hukumannya.

Ada juga yang mengatakan kalau tahun ini sembahyang dengan persembahan kertas sembahyang sebanyak 10, maka tahun depan harus lebih banyak, setiap tahun harus lebih banyak dari tahun sebelumnya, kalau tidak maka rejekinya akan berkurang.

Juga ada yang punya anggapan bahwa kalau tahun ini mempersembahkan kue tertentu dengan diameter 10 cm, tahun depan harus lebih banyak, setiap tahun harus lebih banyak dari tahun sebelumnya, kalau tidak maka rezekinya akan berkurnag.

Juga ada yang punya anggapan bahwa kalau tahun ini mempersembahkan kue tertentu dengan diameter 10 cm, tahun depan harus 15 cm, dan tahun depannya lagi harus 20 cm, setiap tahun perlu dipersembahkan yang lebih besar dari tahun lalu, sampai ada yang membuat kue mangkok dengan diameter 50 cm. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mengatur dan meletakkan di meja sembahyang kalau nanti diameternya sudah menjadi 100 cm. Berapa beratnya dan berapa biaya pembuatannya, ini pasti dapat memecahkan rekor kue mangkok terbesar.

Jadi sebaiknya dipertimbangkan baik-baik, apakah anggapan atau "tatacara yang aneh-aneh" ini akan mempersulit diri sendiri atau tidak. Kalau ya, lebih baik jangan dilakukan, percayalah tidak ada sanksi apa-apa kalau "tata-cara yang aneh-aneh" itu tidak diikuti.

Masih banyak orang yang akalu mau sembahyang di klenteng atau vihara perlu mencari hari dulu, bahkan sampai ke jam berapa sebaiknya sembahyang dilakukan. Tanggal 1 dan 15 setiap bulan Imlek dipercaya sebagai hari baik untuk sembahyang di klenteng dan vihara, di hari yang lain kurang mantap, rejekinya kurang. Apakah betul demikian?

Pada klenteng dan vihara yang para dewa dan roh sucinya tidak "duduk" atau bersemayam 24 jam sehari di tempat itu, sembahyang pada tanggal 1 dan 15 bulan imlek memang benar dan baik. Sebab para suci baru banyak yang "turun" di Vihara dan Klenteng semacam itu pada hari-hari itu. Diluar waktu itu, para cuci tidak ada disitu, altar hanya dijaga dewa kecil penjaga altar atau dewa pengurus altar. Oleh karena itu ada nasehat yang diberikan oleh para "orang tua" bahwa kalau mau meminta petunjuk atau ada permohonan supaya tanya dulu dengan pak pwee. Apakah dewa atau roh suci yang "duduk di altar" ada ditempat? Kalau ada baru dilanjutkan dengan permohonan atau pertanyaan, kalau belum ada, supaya ditunggu sebentar baru ditanyakan lagi.

Pada klenteng yang ramai dikunjungi ummat, umumnya para dewa dan roh suci duduk dan bersemayam 24 jam per hari di altar. Maka para umat yang mau sembahyang tidak perlu lagi mencari hari baik untuk sembahyang, setiap waktu adalah baik untuk sembahyang. Jadi tidak perlu berdesak-desak untuk sembahyang di hari 1 dan 15 bulan Imlek. setiap waktu anda akan diterima oleh para dewa dan roh suci di altar.

5. Hong-Sui dan Hari Baik

Waktu saya masih bekerja sebagai kontraktor di bidang AC, saya sering menemukan masalah yang berhubungan dengan hong sui yaitu ilmu tata-letak untuk rumah. Karena banyak pengalaman yang saya dapat tentang hong sui untuk rumah tinggal, termasuk rumah teman dekat saya yang baru dapat di selesaikan setelah bongkar pasang selama 2 tahun lebih. Saya mengatakan kepada teman-teman saya bahwa kalau anda membangun rumah dengan satu ahli hong sui, maka rumah anda akan selesai dalam waktu 1 tahun, kalau dengan dua ahli hong sui, maka rumah anda baru dapat selesai 2 tahun atau lebih, kalau anda panggil tiga ahli hong sui, maka rumah anda tidak pernah selesai. Sebab ilmu hong sui mempunyai banyak cara dan metode perhitungannya, dan banyak diantaranya yang tidak sejalan atau berbeda. Oleh karena itu jangan mempersulit diri dengan mengundang banyak ahli hong sui untuk membangun rumah, makin banyak bukan makin baik, tapi makin berantakan.

Apakah hong sui diperlukan? Hong sui tidak mutlak! Jadi tidak perlu, tetapi ada sisi positifnya, ada sisi baiknya. Dan yang baik belum tentu diperlukan. Tingkat mengambil keputusan dalam kehidupan spiritual adalah : boleh atau tidak, baik atau tidak dan perlu atau tidak.

Kalau mau pakai perhitungan hong sui, pakai pokok-pokok utamanya saja, tidak perlu sampai detail. Saya beberapa kali menemukan rumah tamu saya yang dibongkar-pasang pintu dan kamarnya. Setiap panggil ahli hong sui maka pintu dan kamarnya, tata-ruangnya diubah lagi dan diubah lagi, sebab masalah kesehatannya terganggu, terganggu seluruh keluarga.

Waktu saya datang ke rumahnya, rumahnya sedang dirapikan dari perubahan yang ke-4 tata-ruangnya. Setelah saya periksa, gangguan kesehatan yang menimpa keluarga ini disebabkan tanah rumah ini berunsur yin atau negatif yang sangat kuat, tanah dimana rumah ini didirikan adalah bekas kuburan masal di jaman V.O.C, di jaman Belanda dulu dipakai untuk pem-bunuhan masal.

Oleh karena itu walaupun hong sui nya diubah berkali-kali, tetap saja kesehatan keluarga ini terganggu, terutama sang istri. Setelah saya netralkan tanah yin ini dengan pasir dari Parang Tritis, baru keadaan kesehatan keluarga ini berangsur-angsur membaik, si istri membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan kesehatannya.

Hong sui tidak mutlak, hong sui tidak dapat mengubah tanah yin menjadi yang atau positif, hong sui juga tidak dapat mengusir mahluk gaib yang jahat.

Beberapa tamu saya yang menanyakan hari baik untuk upacara pernikahan maupun hari baik untuk upacara duka, banyak yang meminta sampai detail, sampai jam-nya diperlukan. Dan saya selalu mengata-kan jam tidak mutlak, tidak perlu sampai detail jam keluar pengantin, jam ketemu mempelai dan lain-lain. Begitu juga untuk upacara duka, meminta detail jam tutup-peti, jam berangkat, jam masuk liang lahat dan lain-lain. Dan saya juga selalu memberitahu bahwa jam tidak mutlak. Dilakukan baik, tidak dilakukan juga tidak apa-apa, tapi ada diantaranya yang tidak mantap dengan penjelasan saya. Maka saya anjurkan untuk memakai jam yang sudah disarankan oleh para “orang tua” atau “orang pintar” saja. Perlu dipertimbangkan, bagaimana kalau jam yang ditentukan itu menjadi mempersulit keadaan, misalnya pengantin keluar rumah jam 6 pagi, bertemu jam 10 pagi dan lain-lain. Atau pemakaman masuk liang lahat jam 6 pagi dan lain-lain.

Mengapa “jam yang sulit” ini jarang ada, sebab kalau ditentukan atau dipilih maka keluarga yang bersangkutan juga sulit melaksanakan, jadi dipilih saja yang tidak mempersulit keadaan. Jadi jam boleh dipilih sendiri, yang tidak mempersulit diri sendiri. Toh faktor jam tidak mutlak, dipakai boleh, tidak dipakai juga tidak apa-apa. Paling enak pilih sendiri jam-nya, bukan harinya.

end of BAB IV buku ke-7


Kutipan dari buku III bab V.4. Tata Cara Penggunaan Sarana Pak Pwee :

Di Altar Vihara Tri Dharma atau klenteng tersedia sarana komunikasi sederhana yang disebut Pak Pwee, komunikasi antara ummat dengan dewa yang duduk di altar. Komunikasi ini sifatnya searah, ummat bertanya dan dijawab dengan "ya" atau "tidak" dengan melemparkan atau menjatuhkan dua keping kayu ke lantai, yang disebut pak pwee.

Bagi ummat Tri Dharma yang sudah biasa ibadah di Vihara tentu sudah mengenal alat pak pwee ini, tapi masih banyak yang kurang mengerti dan memahami secara benar prosedur atau tata cara pelaksanaannya atau menjalankannya.

Orang atau ummat yang bertanya kepada dewa di altar perlu dapat menyusun pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dengan "ya" atau "tidak" saja, jangan membuat pertanyaan yang tidak dapt dijawab dengan "ya" atau "tidak". Misalnya pertanyaan, baik apa tidak saya membaca manra maha Karuna Dharani? Pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab, sebab kalau jawabannya "ya" ini untuk yang baik atau yang tidak baik. Jadi pertenyaan yang benar adalah, apakah baik saya membaca mantera Maha Karuna Dharani?

Kalau misalnya jawabannya baik, buatlah pertanyaan kedua yang sifatnya menguatkan jawaban pertama. Misalnya, apakah mantra itu berguna untuk saya? Kalau jawabnya "ya" ini berarti anda sudah mendapatkan penjelasan dan jawaban mantra itu baik anda baca dan akan berguna atau bermanfaat untuk anda.

Sebaiknya disiapkan dulu susunan pertenyaan, baru menghadap ke altar untuk bertanya. Kalau tidak, yang belum biasa bertanya dengan pak pwee, baru dua tiga kali bertanya sudah berhenti tidak dapat bertanya lagi.

Jawaban "ya" ditandai dengan posisi kayu pak pwee "satu terbuka, satu tertutup". Jawaban "tidak" ditandai posisi kayu pak pwee keduanya tertutup. Kalau jawabannya berupa posisi kayu pak pwee terbuka keduanya, ini berarti pertanyaan yang diajukan tidak jelas atau kurang jelas. Buat pertanyaan yang lebih spesifik atau lebih rinci dan ulangi lagi bertanya. Juga dapat berarti pertanyaan anda belum waktunya untuk dijawab, atau belum boleh ditanyakan. Jawaban dengan posisi kayu pak pwee terbuka keduanya, hanya boleh diulang dua kali.

Masih banyak orang yang meremehkan cara bertanya kepada para dewa di altar dengan memakai pak pwee, cara ini dianggap untung-untungan seperti judi koprok saja. Mereka lebih percaya dan lebih mantap bertanya lewat mediup. Beberapa orang bertanya kepada saya, sampai seberapa akurat kebenaran jawaban yang diperoleh dengan cara pak pwee. Saya jawab bahwa kebenaran jawaban melalui pak pwee sangat tergantung dari sikap dan motivasi di penanya sendiri. Kalau bertanya hanya nuntuk coba-coba atau sekedar tanya dan iseng saja, maka jawabannya yang diperoleh adalah ya sekedar jawaban saja, sebab hanya untuk iseng dan coba-coba.

Akan tetapi kalau motivasi dan sikapnya serius, tulus dan percaya, hati nuraninya bersih, pertanyaan tersusun dengan baik dan jelas, maka jawaban yang akan anda terima dapat mencapai 90% atau lebih adalah benar dan cocok. Ingatlah bahwa para roh suci dan para dewa dalam menolong manusia tanpa pamrih apapun, semuanya dikembalikan kepada manusianya. mau main-main atau coba-coba, maka diberikan untuk main-main atau coba-coba, mau yang serius dan tulus, diberikan untuk yang serius dan kebenaran. Semuanya tergantung dari apa yang anda bawa di hati, yang anda mau.


"Ibadah dari Vihara ke Vihara" bab IV Raport Perjalanan Hidup:

saya kira dalam kelahiran sebagai manusia kali ini semua orang mempunyai misi, yaitu meningkatkan kualitas spirit kita agar setelah kehidupan kali ini kita lahir kembali ke alam yang lebih baik dari sebelumnya, cuma sering manusia dalam mengejar kenikmatan-kenikmatan duniawi lupa akan misinya, malah demi mengejar kenikmatan duniawi banyak melanggar sila, berprilaku tidak baik, lupa akan amal dan ibadah, ujung-ujungnya karma buruk menumpuk yang kemudian menyeret kita jatuh ke alam yang lebih rendah dari alam manusia, kalo udah jatuh ke alam yang lebih rendah, berapa lama lagi kita punya kesempatan untuk lahir lagi sebagai manusia? mungkin sebulan, mungkin setahun, mungkin seratus tahun atau beribu-ribu tahun.

saya kira itu adalah misi manusia secara umum, tapi tentunya ada juga manusia yang lahir dengan misi-misi khusus.
oleh sebab itu, kita perlu dari jauh jauh hari sudah harus mengelola karma kita dengan baik, agar kita tidak terjerumus ke alam yang lebih rendah, minimal kita bisa lahir kembali sebagai manusia untuk meningkatkan terus kwalitas spirit kita, meningkatkan karma-karma baik kita, sukur-sukur kita bisa mencapai tingkatan paling tinggi, lepas dari tunimbal lahir.

pentingnya mengelola karma dijelaskan oleh penulis dalam buku pertama
 "Ibadah dari Vihara ke Vihara" bab IV Raport Perjalanan Hidup:

1. Mengelola Karma

Dalam menempuh perjalanan hidup, seseorang perlu dapat mengelola karmanya, sebab karma inilah yang akan menentukan perjalanan hidup selanjutnya, dihari tuanya, di alam arwah maupun di kehidupan yang akan datang, di reinkarnasinya yang akan datang.

Untuk mengelola karma, kita harus tahu dan mengerti cara bagaimana mencegah terjadinya karma buruk dan bagaimana menghasilkan karma baik. Karma baik tidak dapat digunakan untuk membayar karma buruk, karma baik dan karma buruk berdiri sendiri-sendiri.

Pada saat kita dilahirkan, manusia membawa karmanya masing-masing, ada karma buruknya sama dengan nol, ada yang jumlahnya sedikit dan ada yang sudah banyak. Untuk memberikan patokan atau dasar ukuran dan sedikitnya karma buruk ini, saya pergunakan Skala Kadar Karma Buruk (SKKB) dengan skala 0 sampai 99. Karena dalam menempuh perjalanan hidup ini manusia tidak mungkin dapat menghindar dari perbuatan dosa dan kesalahan, maka SKKB seorang akan terus naik sampai dia menyadari bahwa dalam hidup ini dia juga perlu berbuat baik dan mempunyai laku baik. Pada saat itu berapa besar SKKB miliknya, misalnya pada skala 30 atau 50 atau lebih tinggi lagi.

Kadar karma seseorang inilah yang perlu dikelola agar nanti pada saat seseorang meninggal, sudah dapat diturunkan seminimal mungkin, bahkan kalau bisa dibuat nol.

Menurunkan SKKB berarti membayar karma buruk, karma buruk dibayar dengan mengalami penderitaan. Jadi jangan takut menderita, karena anda sedang mengangsur pembayaran karma buruk anda.


Guru Roh Ketiga, Eyang Begawan

Kalian berdua mendapatkan pelajaran yang semakin tinggi, hal ini akan masih terus diberikan kepada kalian. Guru roh kesatu akan mengajarkan nilai-nilai yang lebih tinggi lagi. Selain memaafkan nantinya akan ada yang diterangkan mengenai pelajaran-pelajaran spiritual yang bernilai tinggi mengenai kebijaksanaan saja. Kebijaksanaan yang bagaimana? Macam ragamnya kebijaksanaan itu sendiri dan nilai-nilai kebijaksanaan itu sendiri, dari tiap kebijaksanaan yang ada, mempunyai nilai-nilai tertentu. Apa yang disebut kebijaksanaan itu selalu baik? Apakah ada kebijaksannan yang tidak baik? Sangat banyak sekali, itu semua akan diterangkan diwaktu-waktu yang akan datang.

Apa saja yang membuat orang harus memaafkan, apa saja hambatan-hambatannya? Dan Apa saja yang membuat orang harus meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya? Bukan hanya hambatan-hambatannya saja tetapi apa yang mendorong orang harus meminta maaf dan apa yang mendorong orang harus memaafkan seseorang, ini yang perlu kalian tulis.

Menolong orang, cinta kasih, berbuat kebajikan, inilah yang sudah banyakj dibicarakan orang, tetapi memaafkan dan emmohon maaf ini agaknya terlupakan. Cukup sekian untuk kalian, pangestuku untuk kalian berdua.
salah satu pertanyaan dalam diri saya yang sampe saat ini masih tetap menjadi pertanyaan: "Dapatkah orang suci/sakti, para dewa, Bodhisatva mengambil atau menghilangkan karma buruk manusia?"
jawaban para sesepuh biasanya:
"tidak, karma buruk tidak bisa diambil atau dihilangkan, cuma bisa ditunda matangnya, atau bisa dipercepat matangnya,"

Penulis, Herman Utomo, dlm buku I Ibadah dari Vihara ke Vihara membabarkan,"

Karma buruk tidak dapat dibayar dengan karma baik. Kedua karma ini berdiri sendiri-sendiri, karma baik menerima pahala, karma buruk menerima hukuman.
Karma tidak dapat diwariskan, dipindahkan atau dihilangkan. Tapi karma dapat berubah dan dapat ditunda atau dapat dipercepat.
Karma buruk dapat dihilangkan atau dikurangi hanya dengan cara membayarnya. Pembayarannya adalah dengan penderitaan."
tapi dalam bathin sy sendiri koq punya keyakinan karma buruk seseorang itu bisa dihilangkan dengan cara diambil oleh pihak lain yang punya kuasa untuk itu, entahlah... mungkin itu hanya keyakinan yg salah. Tapi saya juga lagi nyari tau tentang ajaran Atisa, penyebar Budha Dharma di Tibet yg pernah belajar di Sriwijaya, kalo ngga salah beliau ada mengembangkan cara pembinaan diri dengan cara mengambil penderitaan orang lain, mungkin ada sesepuh yang bisa sharing mengenai hal tersebut.
sanggahan
sebenar nya ulasan ini agak melenceng dari bahasan di threat ini.

tapi sekedar untuk meluruskan saja.

mengenai pertanyaan :
dapatkah kita mengusir mahluk gaib dengan Hong Sui?
dapatkah kita merubah unsur yin menjadi yang dengan hong sui?

kedua pertanyaan tersebut diatas jawaban nya adalah : YA dapat.

ada beberapa faktor dasar yang harus di mengerti tentang fung shui,
fung shui yang berkembang saat ini adalah fung shui modern yang telah mengalami banyak inovasi oleh aliran aliran tertentu dan juga sosial culture dan kepercayaan agama maupun adat masyarakat setempat, dan sebenar nya ada banyak sekali aliran fung shui.

tetapi dari semua aliran itu hal yang paling mendasar harus dikuasai adalah unsur Yin dan Yang pada alam semesta. atau unsur positif negatif bila kita sebut dalam fisika dan di dalam fisika kimia Yin & Yang disebut dengan Elektron (Elektron = Proton + Neutron).

dasar dasar fungshui adalah memahami pola pola energi yang terbentuk oleh alam dan lingkungan sekitar. pola topografi, pola geografi, pola astronomi atau perbintangan, pola sociologi dan yang terpenting adalah pola pisikologis yang berpengaruh besar karena kaitan nya dengan otak kecil yang menangkap sinyal sinyal energi tersebut.

dalam Yin & Yang terbagi lagi menjadi : Yin-Yin dan Yin-Yang, Yang-Yin dan Yang-Yang.
itu yang disebut dengan pembagian inti Yin dan inti Yang.

dasar dasar tersebut harus terlebih dahulu dikuasai sebelum kita dapat mengatakan bahwa unsur Yin atau pun unsur Yang tidak dapat berubah.

hukum energi pun mengatakan bahwa energi itu kekal tidak pernah mati dan hilang tapi berubah bentuk.

di dunia ini dibutuh kan keseimbangan. terlalu banyak positif juga tidak baik, terlalu banyak negatif juga sangat mengganggu.

fung shui adalah "ilmu" dimana manusia sebagai mahluk yang di beri akal dan kemampuan untuk berfikir dan mengolah rasa oleh sang pencipta untuk mengolah keseimbangan energi di alam semesta ini.

jadi fung shui pada awal nya bukan untuk membuat orang menjadi kaya, atau untuk membuat orang sukses dan lain sebagai nya.

pada awal nya fung shui di pelajari dan diterap kan agar manusia dapat mengantisipasi segala hal hal yang mungkin tidak diingin kan yang disebabkan oleh faktor alam.
tetapi lambat laun dipergunakan untuk mengolah energi yang lebih besar dan meguntungkan bagi beberapa pihak.
tentu saja hal itu ada konsekuensi nya, karena dimana ada suatu pihak yang di untungkan pasti ada pihak yang dirugikan. karena kembali lagi ke hukum keseimbangan alam.

-------------------------------------------------------------------------------------

satu, pertanyaan saya, apakah manusia dapat menjadi dewa? Bodhisatwa? atau Buddha sekalipun? pasti jawaban nya sebgaian besar adalah ya dapat.

bila saya bertanya, apakah Dewa, Bodhisatwa atau Buddha Sekalipun dapat kembali menjadi manusia? silahkan dijawab sendiri dengan ke yakinan masing masing.

lalu, apakah manusia dapat menjadi setan dan angkara murka? saya yakin jawaban nya adalah ya.

lihat dari 3 pertanyaan diatas, pola pola perubahan tersebut termasuk pola perubahan energi, dari netral ke positif, dari positif ke netral dan dari netral ke negatif.

lalu apakah setan dan angkara murka dapat berubah menjadi manusia?

dan apabila jawaban diatas adalah bisa, apakah setan dan angkara murka yang telah berubah melatih diri dapat menjadi Dewa, Bodhisatwa dan Buddha?
Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) berbunyi: "Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)".

energi dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

bicara mengenai energi tidak bisa dipisah pisahkan menurut fung shui atau pun fisika, gaib dll.
sebgai contoh bagai mana air berubah menjadi es bila di dingin kan dan berubah menjadi uap bila dipanas kan. air adalah salah satu bentuk dari energi itu sendiri.

berbicara tentang air sebagai contoh energi, air bersih kita anggap saja positif dan air yang kotor kita anggap saja negatif.

apakah air bersih akan baik bagi tubuh bila jumlah nya terlalu banyak?
tentu saja tidak, karena akan melarutkan vitamin dan mineral yang baik dalam tubuh.

lalu apakah air yang kotor tidak baik bagi tubuh?
jawaban nya juga tidak, sebagai contoh imunisasi adalah bentuk dari cairan yang berkomposisi virus yang di kontrol dan di suntikan ketubuh untuk melatih kekebalan tubuh terhadap virus tersebut.

masih bicara dengan air sebagai energi yang dapat berubah, air diolah sedemikian rupa hingga menjadi energi listrik, dan energi listrik disalurkan lagi dengan komponen kompenen sehingga terbentuk lah alat yang kita sebut dengan komputer atau laptop sehingga kita bisa sharing di forum ini. ini adalah salah satu bentuk dari perubahan enrgi.
dan dimana fungshui nya
cara merangkai komponen-komponen itu lah yang diebut dengan fung shui yaitu suatu pengetahuan bagai mana cara mengubah suatu aliran energi dan merubah bentuk energi tersebut.

dan yang terpenting manusia pun adalah bagian dari energi itu sendiri.

jadi apa yang bisa membuat pernyataan bahwa Yin tidak bisa berubah menjadi Yang, dan gaib tidak bisa disalurkan ketempat lain menurut saya terlalu ceroboh.
sebelum beliau menelusuri terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan energi.

bila ingin berbicara dan membuktikan tentang energi mungkin bisa mempelajari ilmu ilmu fisika dasar, dan mengenai gelombang gelombang yang dapat mengukur tingkat tingkat energi seperti gelombang radio, sinyal dan lain sebagai nya.

jadi kalau mau kita jelaskan tentang estitensi gaib, maupun itu Buddha, Bodhisatwa, Dewa, Manusia dan setan dan apa pun itu disebut dengan energi. hanya saja bentuk energi tersebut yang membatasi interaksi nya antar sesama energi yang berbeda bentuk.
karena dimensi dan gelombang yang berbeda.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar